[Prologue] Like Rain, Like Love

[Prologue] Like Rain, Like Love

Written by Sylviamnc

Rain always falls so it will repeat again
When it stops, that’s when I will stop as well

                                                                                    BEAST – On Rainy Days

Awan kelabu memayungi langit kota Seoul sore ini. Angin yang berhembus membuat semua yang ia sapa merapatkan pakaiannya. Setitik demi setitik air mulai turun menyiram bumi, semakin lama debitnya bertambah. Orang-orang langsung berhamburan mencari tempat berteduh.

Seorang gadis dengan rambut bergelombang sebatas bahu juga tidak mau ketinggalan, ia segera berlari ke arah halte bus. Ia berlari dengan berpayung pada tangannya.

Gadis itu berdiri berdesakan dengan orang-orang yang juga menghindari hujan di bawah naungan atap halte bus. Ia tak begitu peduli karena sibuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. “Kenapa harus hujan disaat-saat seperti ini sih?” batinnya kesal.

Setelah beberapa waktu, sebuah bus kosong berhenti di halte itu. Semua orang langsung berebutan masuk seakan takut tidak mendapat bus lagi. Mereka saling dorong-mendorong tanpa mempedulikan orang disekelilingnya.

Malang nasibnya, gadis itu terdorong jatuh ke samping. Air hujan menghujam tubuhnya tanpa kenal ampun. “Aish!” umpatnya kesal. “Dasar! Mau seenaknya sendiri saja! Apa cuma kalian yang mau cepat pulang? Apa cuma kalian yang mau naik bus?” gerutunya dalam hati sambil menatap tajam ke arah orang-orang yang masih berusaha masuk ke dalam bus.

Akhirnya bus pun melesat pergi, menyisakan beberapa orang di halte bus itu. Gadis itu masih terduduk di trotoar.  Ia terlalu kesal hingga tidak merasakan air hujan yang menerjang tubuhnya secara terus-menerus.

Salah seorang pria yang masih tersisa di halte berjalan menghampirinya. “Gwaenchanhayo?” tanyanya sambil mendirikan tubuh gadis itu lalu memapahnya kembali ke bawah atap halte.

Gadis itu terlalu terkejut hingga otaknya berhenti bekerja dan begitu sadar ia sudah terlindung dari hujan. Ia memandang wajah pria yang baru saja membantunya dan ia yakin ia tidak mengenalnya. Bahkan ia tidak pernah melihat pria itu sebelumnya.

Pria itu tersenyum, memperlihatkan keramahan dirinya. “Gwaenchanhayo?” tanyanya lagi.

Gadis itu mengangguk, “gwaen-gwaenchanha,” ucapnya terbata. “Gomawoyo.” Ia membungkukkan badannya. Pria itu juga membungkuk membalasnya. Setelahnya mereka duduk di kursi yang ada.

Gadis itu memeras rambut dan kausnya yang basah kuyup. Lalu ia menoleh dan melihat pria yang menolongnya tadi juga basah kuyup. “Joeseonghamnida. Karena menolong saya, Anda jadi basah seperti ini. Jeongmal joeseonghamnida,” ucapnya tak enak hati.

“Ya sudahlah, mau apa dikata. Tadinya sih aku mau ke rumah pacarku, tapi sekarang sudah basah kuyup begini,” keluh pria itu dengan nada putus asa. Tersirat kekecewaan dalam matanya.

Mulut gadis itu menganga saat mendengar jawaban pria itu. Perasaan bersalah menghantui hatinya. Ia menelan ludah dengan susah payah lalu kembali bersuara, “jeongmal joeseonghamnida. Saya benar-benar tidak ber-” Suaranya terhenti sebelum kalimatnya selesai, “jamkkanman.” Otaknya berputar cepat mencerna serangkaian peristiwa yang baru saja ia alami. “Tapi, bukan sepenuhnya salah saya juga. Anda yang membantu saya tanpa saya minta.”

“Jadi kamu menyalahkanku karena aku membantumu?” Pria itu tampak tidak senang mendengar ucapannya.

“Ah, bukan begitu maksud saya,” kata gadis itu tambah merasa bersalah. “Joeseonghamnida.”

Pria itu menutup mulutnya namun akhirnya ia tidak tahan, tawanya pun meledak. “Hahahaha, aku hanya bercanda.” Pria itu tertawa puas berhasil mengerjai gadis itu.

Gadis itu memanyunkan bibirnya. “Dasar!” umpatnya dalam hati sambil melirik tajam ke arah pria itu lalu memandang hujan yang tak kunjung reda. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang mulai menggigil kedinginan. “Aish! Kenapa harus hujan?”

“Bukankah bagus kalau hujan?” tanggap pria itu.

Gadis itu menaikan sebelah alisnya. “Menurutku lebih baik kalau ada matahari.”

Pria itu memasang tampang tidak setuju. “Lebih baik hujan, lebih sejuk. Matahari itu hanya membuat gerah. Aku lebih-sangat-suka hujan.”

Gadis itu melirik malas pria itu. “Aku benci hujan,” ucapnya dalam hati. Ia malas meladeni pria yang baru ditemuinya itu.

Keheningan melingkupi mereka berdua. Hanya terdengar suara air hujan yang sudah lebih reda dan suara lalu lalang kendaraan di depan mereka. Satu per satu orang yang berada di halte bus itu pergi, entah dijemput kerabat mereka ataupun menerobos hujan karena tak sabar. Kini hanya tersisa gadis itu, pria yang membantunya, seorang ahjumma bersama anaknya dan 2 gadis lainnya.

OMO!” Tiba-tiba gadis itu tersentak kaget. Ia baru mengingat kalau ia ada janji. “Jam berapa sekarang?” tanyanya panik.

“5.13,” jawab pria itu singkat.

Gadis itu membulatkan matanya. “5.13? Gawat!” Ia segera berlari menerjang tirai hujan rintik di depannya.

“YA!” Terdengar suara teriakan pria itu. Namun ia tidak menghiraukannya. Gadis itu juga tidak peduli lagi akan air hujan yang menghujam tubuhnya. Yang ada di otaknya hanya satu kata ‘janji’.

To be continued.

——————————————————–

Hi, thank you for your time for reading my story. Hope you enjoy reading the story. I’m still learning in writing, so I need critic to improve my skill.

Mind to leave a comment?

XOXO,

Sylvia ♥

Advertisements

11 thoughts on “[Prologue] Like Rain, Like Love

  1. Hmm… kalau cewenya g ngebayangin mirip sama Kaoru Akari… hhehe
    Tapi kalau cowonya, entah kenapa gak bisa bayangin Sungmin… tapi lebih ke Xiumin (walaupun tag-nya Beast)…
    g suka tipe karakter cowonya… :3
    hehe

    1. Thanks a lot for reading my story.
      I really need critic to improve my skills, really happy to have you, dear♥

      Tag nya Beast itu buat kutipan lagunya bukan tokohnya, rada ambigu ya? Haha nantikan chapter selanjutnyaa. 😀

  2. hello kaaak finally aku main main ke blog kakak hehe< aku ngebayangin castnya member exo yang tinggi and chanyeol popped out…or maybe luhan? hix emang dirahasiain ya kak?cepetan deh lanjutannya kan penasaran sm jalan cerita mereka apalagi si cowo uda punya pacar…….
    tp jujur aku gabisa bayangin si cewe nya siapa huhuhu apakah oc?
    well done kak, fighting for the next chapter!!!

    1. Yeay, thank you for visiting!
      I’m so sorry but I will give some spoiler here.
      Actually, I’ve written this ff 1 or 1.5 years ago, long time before I like EXO. Ufortunately, the main character here is not EXO :((
      And yes, she is an OC.
      Although it’s not EXO, I hope you still mind to read.
      Thankss 😀

    1. Woah, didnt expect you would visit my blog. Thankss ya 🙂

      Wah, bagus deh kalau kamu bisa paham dengan baik. Terima kasih ya sudah baca dan komen. Keep looking forward to the next chapter 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s