[Chapter 1] Like Rain, Like Love

Poster Like Rain, Like Love Chapter copy

Written by Sylviamnc

Seorang gadis berdiri di depan pintu sebuah Café beratapkan kanopi garis-garis vertikal warna pink dan putih. “Sweet Pumpkin“, begitulah biasanya orang-orang menyebut nama Café yang terkenal di kalangan anak muda ini. Bukan karena menu yang disediakan berbahan dasar labu, namun karena pemilik Café ini sangat menyukai buah ini.

Gadis itu mengatur nafasnya yang naik turun sehabis berlari tadi. Setelah nafasnya teratur, ia membuka pintu Café itu.


Begitu mendengar suara gemerincing lonceng pintu, seorang laki-laki langsung menoleh dan senyumnya langsung merekah begitu melihat seseorang yang ditunggunya datang. “Eun Soo-ya!”

“Sung Min oppa!” Eun Soo menghampiri pria itu lalu mengatupkan kedua tangan di depan dadanya. “Mianhaeyo, aku terlambat.”

Gwaenchanhayo.” Sung Min tersenyum ramah. “Kamu basah sekali, Eun Soo-ya.” Ia melepaskan jaket yang dikenakannya lalu menyampirkannya di pundak gadis itu. “Kamu bisa masuk angin.”

Gomawo, oppa.” Eun Soo tersenyum simpul. “Kuenya, oppa?”

“Kamu tidak mau minum sesuatu dulu? Aku buatkan segelas cokelat panas, bagaimana?” tawar Sung Min.

Gwaenchanhayo, oppa. Masih banyak yang harus aku siapkan sebelum Hee Chul oppa sampai di rumah. Lain kali saja aku mampir ke sini lagi,” tolak Eun Soo.

Sung Min tersenyum lembut. “Hyeong pasti akan senang sekali dengan kejutanmu. Jamkkanman, aku ambil dulu di dapur.” Sung Min membelai rambut gadis itu lalu ia berjalan ke arah dapur.

Eun Soo tersipu sambil menyentuh rambut yang tadi disentuh Sung Min. Ia sangat senang diperhatikan seperti itu, terlebih Sung Min yang melakukannya.

Tidak berapa lama, pria itu sudah berdiri di depan Eun Soo dengan menjinjing sebuah kotak di tangannya. “Igeo. Semoga kamu suka.”

Eun Soo menerima kotak itu dengan hati-hati takut merusak isinya. “Gomawo. Apapun yang oppa buat pasti aku suka. Jadi berapa semuanya, oppa?”

Sung Min kembali tersenyum. “Dwaesseoyo, kali ini spesial untuk hyeongmu.”

Ne, oppa. Gomabda.”

“Sepertinya masih gerimis, aku antar ya?” ucap Sung Min sambil merogoh kantung celananya mengambil kunci mobilnya.

Dwaesseoyo, oppa.” Eun Soo menahan tangan Sung Min.

Sung Min sudah sangat mengenal gadis itu jadi ia hanya menuruti ucapannya. Ia mengantar Eun Soo sampai ke pintu keluar dan membukakannya. “Masih gerimis, aku panggilkan taksi dulu. Tunggu disini.” Gadis itu menahan lengan Sung Min saat ia hendak mengambil payung yang tergantung di sebelah pintu masuk. “Tidak perlu, oppa, aku pulang jalan kaki saja.”

Sung Min membelai rambut gadis di hadapannya itu. “Aku iri pada Hee Chul hyeong. Beruntung sekali ia punya adik yang rela hujan-hujanan seperti ini untuk membuatkan dia pesta kejutan.” Ia tersenyum lembut.

Oppa bisa saja,” ucap Eun Soo tersipu malu. “Pasti berat bagi Hee Chul oppa untuk tinggal di negara orang sendirian. Tapi untung saja ada Han oppa yang mau menjadi temannya di sana. Jadi untuk menghargai usahanya itu aku ingin menyiapkan pesta kejutan ini,” jelas Eun Soo lalu ia merebut payung yang ada di tangan Sung Min dan berjalan ke bawah hujan. “Oppa, pinjam payungnya ya. Annyeong.”

“Eun Soo-ya! Telepon aku kalau sudah sampai di rumah, arasseo?” pinta Sung Min setengah berteriak. Ia melihat gadis itu terus berlari tanpa berbalik. “Dasar! Selalu saja tidak mau merepotkan orang lain namun akhirnya malah membuat orang khawatir,” gerutunya lalu tertawa kecil. Setelah sosok Eun Soo tidak terlihat lagi, ia masuk kembali ke dalam Cafénya.

Hyeong!”

Tangan Sung Min ditahan sebelum ia menutup rapat pintu Cafénya. Ia langsung menoleh karena mengenal pemilik suara yang menahannya itu. “Kyu Hyun?” Ia membuka kembali pintu itu dan membiarkan Kyu Hyun masuk dan langsung mengambil tempat duduk di sofa terdekat.

“Sepertinya besok akan ada tagihan ke rumahmu untuk biaya pengeringan sofa itu,” gurau Sung Min. Kyu Hyun hanya tertawa renyah mendengarnya. “Aku tidak bercanda. Jadi jangan kaget dan siapkan uangnya, arasseo?” Ia terkekeh sendiri setelah menyelesaikan ucapannya.

“Jadi bisa berikan aku segelas caramel macchiato dan sandwich tuna? Kehujanan membuatku kelaparan,” ucap Kyu Hyun dengan gaya memerintah.

Sung Min menjitak kepala Kyu Hyun dan yang dijitak malah memeletkan lidahnya. “Dasar kurang ajar!” Lalu ia memanggil salah satu pelayannya untuk membawakan pesanan Kyu Hyun. “Tumben kau hujan-hujanan sampai basah begini. Darimana, Kyu? Kampus?”

Tidak berapa lama kemudian, pesanannya datang. Kyu Hyun langsung meminum caramel macchiato di hadapannya. “Hangat,” gumamnya lalu menyuapkan sepotong sandwich ke mulutnya. “Siapa gadis tadi, hyeong? Hyeong-ui yeojachingu?” tanyanya tanpa menghiraukan pertanyaan Sung Min. Sung Min menjitak kepala Kyu Hyun lagi. “Appayo.” Ia mengelus kepalanya perlahan.

“Kau tidak pernah diajari sopan santun ya? Jawab dulu pertanyaan orang lain baru kau bertanya lagi.” Namun yang dinasihati malah berpura-pura tidak mendengar dan melanjutkan makan sandwichnya. Sung Min geleng-geleng kepala.

Kyu Hyun melirik ke arah Sung Min lalu terkekeh pelan. “Jadi tadi hyeong bertanya tentang apa?” tanyanya dengan tampang innocent.

Sung Min mendengus kesal. “Dwaesseo,” katanya sambil beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah kasir, meminta segelas Americano dan kembali ke tempatnya.

“Kalau hyeong tidak jadi bertanya, sekarang jawab pertanyannku,” ujar Kyu Hyun penasaran.

“Kenapa kau penasaran sekali dengannya?” Sung Min memandang pria yang lebih muda darinya 2 tahun itu dengan pandangan skeptis.

Kyu Hyun memutar bola matanya, “untuk kali ini aku peduli, hyeong. Jawab saja aku, siapa gadis berambut gelombang tadi?” tanyanya sedikit menuntut.

“Eun Soo maksudmu? Nae dongsaengiya,” jawab Sung Min ringan sambil menyeruput Americano yang baru saja disuguhkan salah seorang pelayan Cafénya.

Kyu Hyun tidak puas mendengar jawaban Sung Min, ia pun kembali bersuara, “dongsaeng? Setahuku hyeong anak tunggal.”

“Kami bertetangga sejak kecil, sehingga kami sudah seperti oppa-dongsaeng. Ngomong-ngomong, sejak kapan kau peduli pada hidupku?”

***

Jam baru menunjukan pukul 07.10 dan Sung Min sudah berada di Cafénya. Belum ada satu pun pelayannya yang datang karena memang biasanya ia baru buka pukul 09.00 dan pelayannya datang 1 jam sebelumnya.

Sung Min menyeduh kopi dan meminumnya perlahan sambil memperhatikan tiap sudut Cafénya yang dirancang khusus oleh Eun Soo, sebagai hadiah ulang tahunnya tahun ini. Eun Soo berkuliah di jurusan desain interior dan itu memang mimpinya sejak kecil.

Sung Min sedang asyik memutar memori masa kecilnya saat mendengar bunyi gemerincing lonceng pintu dan ia pun langsung menoleh. Senyumnya mengembang begitu sosok yang sedang ia pikirkan kini menjadi nyata dan memasuki Cafénya.

Oppa, joheun achim,” sapa Eun Soo riang.

Joheun achim. Ada apa pagi-pagi sudah kesini?” tanya Sung Min seraya meletakkan cangkir kopi di atas lemari etalase kue yang membatasi dirinya dengan gadis itu.

Eun Soo menumpukan dagu dan tangannya di atas lemari itu. “Aku dan Hee Chul oppa sedang mencari sarapan dan kulihat motor oppa terpakir di depan, jadi aku masuk saja. Setahuku Café ini buka jam 9, apa yang oppa lakukan di sini sekarang?”

Sung Min mengkopi perbuatan gadis di hadapannya sehingga wajah mereka berjarak kurang dari 30 cm. “Aku hanya merasa bosan di rumah, jadi aku memutuskan untuk datang ke sini.”

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menghalangi wajah mereka berdua, “apa yang sedang kalian berdua lakukan?” Baik Eun Soo maupun Sung Min langsung menarik wajahnya dan menoleh pada si empunya tangan itu. Pria itu memasang wajah datar menatap Eun Soo.

“Hee Chul hyeong, annyeong. Lama tidak berjumpa,” sapa Sung Min begitu mengenali pria itu.

Hee Chul yang manggut-manggut dan kembali terfokus pada Eun Soo. “Katamu Café ini bukanya jam 9.”

Eun Soo baru membuka mulutnya hendak bersuara namun Sung Min mendahuluinya, “biasanya memang jam 9, hyeong. Tapi hari ini aku datang lebih pagi karena sedang suntuk di rumah. Jadi kalian mau sarapan apa? Biar aku yang buatkan, sudah lama aku tidak memasak.”

Hee Chul mengangkat sebelah alisnya, “tidak merepotkanmu?” Sung Min mengangguk mantap. “Ya sudah, buatkan kami apa saja yang cepat. Kami tunggu di sana,” ucap Hee Chul sambil menunjuk salah satu meja. Ia menarik kerah baju Eun Soo sampai ke tempat duduk.

Sung Min tertawa kecil melihat perilaku kedua kakak adik itu lalu berlalu ke dapur. Eun Soo menekuk wajahnya kesal. “Memangnya kali ini apa salahku, oppa?”

“Wajah kalian itu terlalu dekat untuk sekedar mengobrol. Lain kali jangan pernah membiarkan wajahmu berjarak kurang dari setengah meter dengan wajah pria, arasseo?” pinta Hee Chul tegas.

Eun Soo memiringkan kepalanya. “Tapi, dia kan Sung Min oppa. Oppa juga sudah mengenalnya sejak masih kecil dan Sung Min oppa bukan orang seperti itu,” belanya.

Hee Chul menggelengkan kepalanya. “Kau tidak tahu apa yang ada di pikiran seorang pria, Eun Soo-ya. Pokoknya jangan pernah memberi kesempatan pada seorang pria, arasseo?”

Ne, oppa. Arasseo,” jawab Eun Soo tidak berani membantah kakaknya.

Sepuluh menit kemudian, Sung Min menyuguhkan 2 piring pancakes dengan lelehan butter di atasnya ke hadapan Eun Soo dan Hee Chul. “Kalian mau minum apa?”

“Kopi untukku dan air putih saja untuk anak ini. Mana piringmu? Kau tidak mau makan bersama kami?” tanya Hee Chul seraya melihat ke arah nampan kosong yang dibawa Sung Min.

Sung Min kembali menaruh secangkir kopi dan segelas air ke atas meja. “Aku hanya sarapan dengan secangkir kopi. Silahkan dinikmati,” ucap Sung Min sambil beranjak pergi namun tangannya ditahan Eun Soo.

Oppa duduk di sini saja, menemani kami,” bujuk Eun Soo sambil menepuk kursi di sebelahnya.

Sung Min menuruti ucapannya dan duduk di kursi itu. “Hanya ini yang terpikir di otakku saat mau memasak. Semoga kalian suka.”

“Bukankah aku sudah pernah bilang, apapun yang oppa buat pasti aku suka. Sudah lama aku tidak makan pancakes. Jal mokkeseumnida.” Eun Soo menyuapkan sepotong pancake ke mulutnya. “Masitta.”

Sung Min tersenyum melihat ekspresi Eun Soo. “Ngomong-ngomong, pagi-pagi seperti ini kalian mau pergi kemana? Pakaian kalian juga sudah rapi dan kompak, hitam-hitam.”

“Kami mau ke makam appa dan eomma. Hari ini tepat dua tahun mereka pulang ke sana.”

Sung Min membulatkan mulutnya. “Kalian naik apa? Biar aku antar,” tawarnya seraya memandang dua kakak beradik itu bergantian lalu menepuk jidatnya sendiri. “Ah ya! Aku lupa kalau mobilku masih di bengkel.”

Ne, gwaenchanha,” balas Eun Soo lembut.

Ppali meogeo! Masih banyak yang harus kita beli,” pinta Hee Chul seraya menenggak kopinya hingga habis lalu mengelap mulutnya dengan tisu. Eun Soo menganga begitu melihat piring Hee Chul yang sudah tandas. “Kau itu kebanyakan berbicara. Cepat habiskan!”

Eun Soo melahap hotcakenya dengan cepat hingga habis. Ia meneguk air dari gelasnya lalu mengelap mulutnya dengan tisu. “Selesai.”

“Sung Min, berapa semuanya?” tanya Hee Chul sambil membuka lipatan dompetnya.

“Tidak perlu, hyeong. Sudah cukup dengan kepuasan kalian.”

“Mana bisa begitu, oppa. Cheese cake yang kemarin sudah kamu berikan cuma-cuma, dan sekarang lagi? Nanti oppa merugi karena terlalu sering memberi pada kami, kami yang tidak enak,” sela Eun Soo.

“Sung Min, bedakan bisnis dengan hubungan kita. Jangan karena hubungan kita, bisnismu berantakan,” jelas Hee Chul lalu menaruh sejumlah uang di atas meja. “Terima kasih atas makanannya.” Ia pun beranjak pergi.

Ha-hajiman…”

Oppa, annyeong,” pamit Eun Soo kemudian menyusul Hee Chul.

Keadaan Café kembali sunyi setelah kepergian kakak-adik itu. Sung Min menatap lembaran uang yang ada di atas meja. “Aku hanya ingin kalian menganggapku sebagai keluarga. Sebagai keluarga seharusnya tidak perlu sungkan satu sama lain, apa aku salah?” lirihnya.

Setelah beberapa menit tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia mengambil uang itu dan berjalan ke arah meja kasir. Ia memasukkan lembaran uang ke dalam mesin kasir dan pikirannya kembali menerawang.

Putaran ingatannya kembali pada kejadian tepat dua tahun silam. Ya, hari dimana ia mendengar kabar tentang kecelakaan orang tua Eun Soo.

***

Sung Min telah menyelesaikan kewajibannya sebagai warga negara Korea yang baik. Setelah hampir dua tahun mendekam di camp dan melatih fisiknya, kini ia kembali pada kehidupan kota Seoul yang sibuk.

Sung Min berjalan menuju rumah gadis itu demi menepati janjinya untuk menghabiskan waktu bersama sore ini. Ia mengetuk pintu rumah Eun Soo dan tidak berapa lama, wajah gadis itu menyembul dari balik pintu. Hatinya berdesir begitu melihat kembali wajah gadis itu.

Senyum lebar terbentuk jelas di wajah Eun Soo. Ia langsung menghambur ke arah Sung Min dan memeluknya erat. “Oppa, bogosipheo. Neomu, neomu bogosipheo.”

Sung Min ikut tersenyum seraya mengelus rambut panjang Eun Soo. “Nado, bogosipda.” Setelah beberapa menit mereka melepas pelukan masing-masing.

Eun Soo memperhatikan wajah lalu seluruh tubuh Sung Min. “Oppa kurusan. Pasti berat berada di sana. Hee Chul oppa waktu itu juga jadi kurus.”

Sung Min tersenyum penuh arti. “Bagaimana kabar abeonim dan eommeonim?”

“Mereka baik-baik saja,” jawab Eun Soo lalu menarik tangan Sung Min sampai ke ruang keluarga rumahnya. Mereka duduk di sofa panjang yang ada di sana. “Oppa, ayo ceritakan padaku pengalaman oppa di sana. Semuanya,” ujar gadis itu manja.

Aigo, berapa usiamu sekarang? Kenapa kamu masih seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan es krim?” celetuk seseorang yang berdiri beberapa meter menghadap mereka.

Sung Min menoleh. “Hyeong, annyeonghaseyo, lama tak berjumpa” sapanya hormat.

Eun Soo memasang tampang cemberut. “Biarin.” Ia memeletkan lidahnya ke arah Hee Chul.

Hee Chul hanya mengangkat bahunya lalu berjalan menjauh. “Aku mau keluar. Jaga rumah.”

“Ayo oppa, mulai cerita!” pinta Eun Soo tanpa menggubris ucapan kakak kandungnya itu. Sung Min pun memulai cerita mengenai kehidupannya dua tahun terakhir ini. Eun Soo mendengarnya dengan antusias. Tidak jarang mereka tertawa karena cerita tentang peristiwa konyol yang dialami pria itu di sana.

Entah berapa lama mereka mengobrol hingga terdengar suara dering telepon. “Oppa, jamkkanmanyo,” kata Eun Soo sambil berlari kecil ke arah meja telepon.

Sung Min tersenyum memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Namun senyumnya terhenti begitu melihat perubahan ekspresi wajah Eun Soo.

Wajah Eun Soo menegang. Kurang dari 2 menit, ia sudah menaruh gagang telepon kembali ke tempatnya. “Oppa, kita ke Rumah Sakit Seoul sekarang juga! Ppali!” pintanya sedikit berteriak sambil berlari ke arah Sung Min dan menarik lengan pria itu panik.

Sung Min tahu telah terjadi sesuatu yang tidak baik karena selama ini Eun Soo tidak pernah berteriak padanya.

 

Tidak sampai 30 menit, mereka sudah sampai di Rumah Sakit Seoul. Eun Soo bergegas membuka seat-beltnya dan turun dari mobil walau mobil itu belum berhenti sepenuhnya. Rintik-rintik air hujan juga mulai membasahi bumi.

Sung Min memarkir mobilnya dengan cepat dan mengejar gadis itu. Ia berhasil mengejarnya saat Eun Soo sedang bertanya pada resepsionis.

Setelah mendapat informasi, Eun Soo kembali berlari ke arah yang ditunjukkan suster tadi namun kini Sung Min menemaninya. Sung Min melihat di depan sana ada seorang dokter dan Hee Chul. Mereka pun menghampirinya.

Eun Soo mengguncang lengan Hee Chul. “Oppa, eotthae? Oppa!” serunya panik.

“Maaf, apakah Anda juga anggota keluarga Kim?” tanya dokter tersebut sopan pada gadis itu.

Ye, seonsaengnim.”

“Anda juga?” tanya dokter itu pada Sung Min.

Animnida, uisa seonsaengnim,” jawab Sung Min sopan.

“Maaf, namun selain keluarga tidak diperkenankan masuk,” ucap dokter pada Sung Min lalu beralih ke dua bersaudara tersebut, “geureom, apakah kalian ingin melihatnya sekarang?”

Hee Chul dan Eun Soo mengangguk singkat lalu mengikuti dokter memasuki pintu yang ada di dekat mereka. Sung Min menunggu di depan ruang itu dengan gelisah. Ia yakin telah terjadi sesuatu dengan orang tua mereka. Apakah mereka kecelakaan?

Setelah beberapa menit, mereka semua keluar dari balik pintu tadi. Dokter tersebut langsung berjalan menjauh dari mereka bertiga. Dilihatnya Hee Chul merangkul pundak adiknya. Eun Soo menundukkan kepalanya dan tubuhnya berguncang, Sung Min tahu pasti gadis itu menangis.

Hee Chul melepaskan rangkulannya. “Tolong jaga Eun Soo.” Ia melangkah pergi meninggalkan adiknya pada Sung Min.

Sung Min merangkul gadis yang tengah terisak itu lalu membimbingnya menuju mobil. Ia melindungi kepala gadis itu dari gerimis menggunakan jaketnya.

Sung Min mendudukannya dalam mobil lalu memakaikannya sabuk pengaman. Pria itu menutup pintu dan mengambil tempat di balik kemudi. Rasa penasaran memberanikan dirinya untuk bertanya, “Eun Soo?”

Gadis yang dipanggilnya bergeming. Ia masih mempertahankan posisinya dan sesekali terdengar suara isakan.

Hal ini membuat Sung Min mengurungkan niatnya kembali. Hatinya terasa nyeri melihat keadaan gadis di sebelahnya itu. Ia menyampirkan jaket yang ia kenakan ke tubuh Eun Soo yang hanya dibalut kaus tipis. Ia mengelus lembut rambut Eun Soo lalu memacu mobilnya menembus hujan.

***

Sung Min akhirnya tahu bahwa orang tua Eun Soo mengalami kecelakaan mobil tadi siang. Ban mobil mereka pecah sehingga kehilangan kendali. Mobil itu menabrak pembatas jalan, membuatnya terbalik dan merenggut nyawa penumpangnya.

Hari sudah semakin larut namun hujan belum berhenti sejak tadi sore malah bertambah deras. Sung Min mengetuk pintu kamar Eun Soo untuk memastikan keadaannya. Karena tak ada jawaban dari dalam, ia memutuskan untuk langsung masuk.

Di atas ranjang, ia melihat gadis itu sedang tertidur dengan pipi berlinang air mata. Ia mengusap pipi yang basah itu dengan ibu jarinya. “Eun Soo-ya, kamu harus kuat ya.”

Tiba-tiba Eun Soo membuka matanya dan menatap Sung Min. “O-oppa, nan eotteokhae?” lirihnya lalu setitik air mata kembali turun dari ujung matanya.

Hati Sung Min teriris begitu mendengarnya. Otaknya tidak dapat menemukan kata-kata untuk menjawab. “Eun Soo-ya, uljimara.”

Oppa, aku takut. Apa yang bisa kulakukan tanpa eomma dan appa? Oppa, na ijen eotteokhae?” Eun Soo mendudukkan dirinya sehingga sejajar dengan Sung Min. “Oppa, malhe! Malhebwa!” serunya sambil mengguncang lengan pria itu.

Sung Min menarik Eun Soo dalam pelukannya. Ia tidak bisa mengeluarkan jawaban dari mulutnya sehingga tubuhnya yang bereaksi menjawabnya. Ia merasakan air merembes di kausnya. Gadis itu kembali menangis dalam pelukan Sung Min. “Oppa, mianhaeyo. Tidak seharusnya aku mendesak oppa,” isaknya pelan.

Sung Min melepaskan tangannya yang melingkari tubuh Eun Soo. “Gwaenchanha. Aku tahu ini terlalu mendadak untukmu,” katanya menatap dalam mata sendu gadis itu. Ia tersenyum hangat seraya membelai rambut Eun Soo lembut lalu mencium puncak kepala gadis itu. “Menangislah jika itu membuatmu lebih baik. Aku rasa kau butuh sendirian,” ucapnya sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Ia berjalan menuju ruang keluarga, duduk di sofa panjang yang ada di sana. Tidak lama ia pun terlelap.

Suara deringan telepon membuat Sung Min terjaga dari tidurnya. Setengah sadar Sung Min bergerak menuju telepon itu dan mengangkatnya. “Yeoboseyo?”

Yeoboseyo? Apakah benar ini rumah Kim Hee Chul?” sapa suara seorang wanita di seberang sana.

Kesadaran Sung Min perlahan menjadi penuh, “ne, ajumma. Apa terjadi sesuatu pada Hee Chul hyeong?”

Anieyo, dia hanya terlalu mabuk saja. Bisakah kamu menjemputnya disini?”

Ne, ajumma. Bisa beri tahu alamatnya pada saya?” Bibi di seberang telepon itu memberi tahu alamatnya dan Sung Min pun mengakhiri hubungan telepon tersebut. Ia melirik jam yang tergantung di atas tempat telepon tersebut, “jam setengah tiga pagi.”

Sung Min segera menuju mobilnya yang terpakir di halaman rumah Eun Soo. Entah sejak kapan hujan berhenti, mungkin belum terlalu lama karena jalanan masih cukup basah. Ia memacu mobilnya menuju tempat yang disebutkan ajumma tadi.

Sung Min sampai di kedai minum tepi jalan itu dan segera memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Tidak ada pengunjung lain di sana, hanya tinggal satu meja yang ada. Ia menghampiri Hee Chul yang tertidur di meja. “Hyeong,” panggilnya sambil mengguncang pelan lengan Hee Chul.

“Sepertinya dia tertidur lelap karena terlalu banyak minum.” Sung Min melihat seorang wanita paruh baya mendekatinya. “Apa telah terjadi sesuatu padanya? Tidak biasanya dia seperti ini,” ujarnya seraya memandang Hee Chul iba.

Sung Min tidak tahu apakah ia berhak memberi tahu bibi ini atau tidak. Namun bibi ini sepertinya tahu apa yang ada di pikiran Sung Min, “lebih baik kamu membawanya pulang,” lanjutnya.

Sung Min mengangguk singkat seraya berjongkok di samping Hee Chul. Dibantu dengan bibi itu, tubuh Hee Chul dipindahkan ke punggungnya.

Bibi itu membantu membukakan pintu mobil, dan Sung Min membaringkan tubuh Hee Chul di kursi belakang. “Ajumma, gomabsumnida,” ucapnya sambil membungkuk hormat lalu mengambil tempat di belakang kemudi.

Sung Min menstater mobilnya lalu melongok ke kursi belakang. Walau gelap, ia dapat melihat setitik air mata turun dari ujung mata Hee Chul. Rasa perih itu kembali menyusup ke relung hatinya.

Orang yang ia hormati setelah orang tuanya dan orang tua Hee Chul, menangis. Ia tahu ini pukulan besar dalam kehidupan Hee Chul dan Eun Soo. Ia sangat ingin membantu, tetapi dengan apa? Ia tidak bisa mengembalikan orang tua mereka karena ia tidak berkuasa untuk itu.

Sung Min menghela nafas seraya menatap kosong aspal jalan di depannya. Setelah beberapa saat, ia melajukan mobilnya.

——————————————————–

Hi, thank you for your time for reading my story. Hope you enjoy reading the story. I’m still learning in writing, so I need critic to improve my skill.

Mind to leave a comment?

XOXO,

Sylvia ♥

Advertisements

5 thoughts on “[Chapter 1] Like Rain, Like Love

  1. eonni kelihatannya suka membuat dialog ya? ^^
    kalo aku mah berbanding terbalik sama eonni *masak? o_o*
    .
    eon, bakalan ada konflik kan? aku lihat ini masih blm ada *blmpeka* istilah sastranya blm ada klimaks kekekee~
    .
    semangat eonni! ^_^ keep writing ~

    1. Kelihatannya gitu ya? Haha
      Emang sih lebih suka kalau tokohnya berdialog satu sama lain dibanding saya narasi panjang2.
      Hm, iya sih dari ff kamu yang aku baca, dialognya minim, tapi ya itu ciri khas penulisnya aj sih.

      Tenang aja, ini baru chapter 1, baru ngebangun emosi aja.
      Thankss ya hehe semangat juga buat kamu! 😀

  2. Bagus banget ff nya, kasihan Eunsoo dan Heechul oppa ditinggal kedua org tua nya, so sad.. Smg Sungmin oppa bs sll ada u Eun Soo, sepertinya Sungmin oppa suka Eunsoo knp tdk meminta izin Heechul oppa agar mrk blh berpacaran

    1. Hi, thanks for reading 🙂
      Ff ku ini msh jauh dari kata bagus klo dibandingin sama author ff lain yg sudah lebih berpengalaman. Tapi makasih untuk pujian bagus banget nya, ini buat aku jadi lebih termotivasi utk jadi “bagus banget” ;;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s