[Chapter 2] Like Rain, Like Love

Poster Like Rain, Like Love Chapter 2

 

Written by Sylviamnc

Rainy Days Rainy Days

The rain came down and blinding my eyes

Goes fade away fade away (it fades away)

Missing you to death

It will be repeated in my day, every day and night

When I open my eyes again

Oneway ft.Junsu 2PM – Rainy Days

 

Eun Soo dan Hee Chul sedang berada di dalam bus yang melaju menembus hujan yang menyiram kota Seoul sore ini. Mereka dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi makam orang tua mereka. Tidak ada yang berbicara di antara mereka, sibuk dengan pemikirannya masing-masing.

Eun Soo memandangi tiap tetes hujan yang mengenai kaca jendela di sebelahnya. “Untung saja tadi tidak hujan,” pikirnya.

Setelah bosan, ia melirik Hee Chul di sampingnya yang tengah memakai earphone. Pria itu memainkan jarinya mengikuti irama lagu yang didengarnya. Eun Soo menarik salah satu earphone dan memakainya.

Hee Chul langsung menoleh dan melihat adiknya memeletkan lidahnya lalu tersenyum. Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua.

Oppa,” panggil Eun Soo. Hee Chul hanya berdeham. “Apa pendapat oppa mengenai Sung Min oppa?” tanya gadis itu hati-hati.

Wae?” tanya Hee Chul balik tanpa menoleh ke arah gadis itu.

Eun Soo mendengus. “Aku yang bertanya, kenapa oppa bertanya balik? Sudahlah jawab saja,” desaknya namun pria itu masih diam. “Oppa tidak suka pada Sung Min oppa?” tanyanya lagi.

“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”

Oppa tidak suka? Kenapa?” tanya Eun Soo penasaran. “Apa yang sudah Sung Min oppa lakukan?” Ia tidak bisa menahan rasa penasarannya sendiri.

Hee Chul mengambil nafas sebelum buka suara. “Sung Min orang yang baik,” ucapnya seraya menatap kosong ke arah depan. “Terlalu baik malah. Kita sudah terlalu banyak menerima bantuan darinya, amat teramat banyak.”

Hati Eun Soo sedikit lega mendengar jawaban Hee Chul.

“Aku tidak mau merepotkannya lebih dari ini,” lanjut Hee Chul lalu ia menoleh ke arah adiknya itu. “Niga Sung Min-i johahae?,” tanyanya datar.

Eun Soo tertohok mendengarnya ucapan pria itu. Ia menundukkan mukanya yang terasa panas. Jantungnya berdebar cepat sekali. Hatinya benar-benar tidak mampu ia kontrol.

“Ah~ Bayi kecilku mulai beranjak dewasa rupanya,” goda Hee Chul seraya tersenyum penuh kemenangan.

Wajah gadis itu bertambah merah. “Babo, kenapa aku membicarakan hal ini dengan oppa? Sudah pasti dia akan mengejekku habis-habisan. Babo, babo, babo!” rutuk Eun Soo dalam hati berusaha menahan debaran jantungnya yang sudah tidak karuan.

Hee Chul hanya tertawa tanpa suara melihat perubahan sikap adiknya hingga ia mendengar suara ringtone handphonenya berbunyi. “Yeoboseyo?… Ne, joneun Kim Hee Chul imnida…” jawabya sopan.

Eun Soo menengok pada kakaknya yang menjawab telepon itu dengan kata-kata formal dengan masih menutupi wajahnya. Tiba-tiba air muka kakaknya itu berubah. Pria itu membelalakan matanya sedetik lalu menatap kosong ke depan sambil tetap mendengarkan suara dari seberang telepon. Banyak pertanyaan bermunculan dalam otak Eun Soo namun suaranya tertahan.

Setelah beberapa saat, Hee Chul menghentikan panggilan telepon itu tanpa suara. Ia memasukkan asal handphonenya ke dalam saku celananya lalu mengacak rambutnya kesal.

Wae geuraeyo, oppa? Apa ada yang salah? Apa telah terjadi sesuatu?” tanya gadis itu penasaran dengan perubahan Hee Chul. Melupakan percakapan mereka tadi.

Hee Chul hanya menatap kosong ke arah jalan di depannya. Suaranya tertahan di pangkal tenggorokannya.

Oppa?” Eun Soo mengguncang pelan lengan pria itu namun tidak ada tanggapan. Akhirnya ia memilih diam, menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak tahu.

Bus itu berhenti di dua halte sebelum halte tujuan mereka. Namun Hee Chul langsung beranjak turun sambil menarik tangan adiknya.

Eun Soo hanya bisa mengikuti tarikan kakaknya itu karena kekuatannya tak sebanding untuk mencegahnya. “O-oppa, kita belum sampai.”

Hee Chul tidak menjawab, ia tetap melangkahkan kakinya lebar-lebar di bawah rintik hujan tipis yang mengenai puncak kepala mereka berdua. Ia menyebrang jalan dengan masih menarik tangan adiknya.

Eun Soo menutup rapat mulutnya karena sepertinya kakaknya tidak ingin menjawab apapun pertanyaannya. Ia hanya mengikutinya tanpa berusaha mengelak lagi.

Setelah berjalan tidak begitu jauh, akhirnya mereka sampai di depan gerbang Rumah Sakit Seoul. Eun Soo semakin tidak mengerti, ada apa gerangan yang membawa mereka harus ke tempat ini kembali?

Perasaan buruk melingkupi hati gadis itu. “O-oppa, untuk apa kita ke sini? Nan sihreo!” seru Eun Soo sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Hee Chul. “Oppa!” bentaknya keras. Ia meronta ingin dilepaskan.

Hee Chul akhirnya melepaskan genggaman tangannya. “Eun Soo,” ucapnya membelakangi gadis itu. “Kita harus masuk ke dalam sana.”

Eun Soo menutup kedua telinganya ketakutan. “Sihreo! Aku tidak mau masuk ke tempat ini lagi. Nan jeongmal sihreo!”

Hee Chul berbalik lalu melihat tubuh adiknya yang sedikit bergetar. Dari raut wajahnya terlihat ketakutan yang teramat besar. Hee Chul menggenggam pundak adiknya.

Eun Soo dapat merasakan kekuatan dari tangan kakaknya itu. “Oppa, kenapa kita harus ke tempat ini lagi?” tanyanya lemah.

Hee Chul menatap dalam mata gadis itu. Eun Soo balas menatap mata pria itu dengan pandangan tidak mengerti. Mata pria itu gelap, seperti menyembunyikan sesuatu di baliknya. “Oppa?”

Hee Chul tidak berani menatap mata adiknya itu lebih lama. “Telepon tadi dari tempat ini. Ia mengatakan…” Ia menarik nafas dalam sebelum menyelesaikan kalimatnya.

“Sung Min oppa,” gumam Eun Soo tiba-tiba.

Hee Chul langsung menatap mata gadis itu dengan pandangan tidak percaya. Ia yakin, ia belum mengucapkan nama itu. Tapi bagaimana adiknya tahu?

Mata Eun Soo membulat begitu melihat reaksi pria itu. Dadanya sesak. Perasaan takut itu kembali. Perasaan takut seperti pertama kali mendengar berita kecelakaan orang tuanya. Ia langsung berlari menerobos semua yang ada di hadapannya menuju gedung rumah sakit itu tanpa berpikir lagi.

***

Eun Soo menatap kosong tubuh Sung Min yang terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. Pelipis pria itu diperban. Wajahnya terlihat amat pucat.

Hee Chul memegang pundak gadis itu. “Katanya, sekitar dua puluh menit yang lalu seorang pelayan Café menelepon kesini. Ia menemukan Sung Min pingsan di ruangannya dan pelipisnya robek, mungkin tergores ujung meja saat jatuh.” Eun Soo bergeming.

“Pihak rumah sakit sudah menghubungi orang tuanya namun mereka menyuruh pihak rumah sakit menghubungiku,” lanjut Hee Chul lalu menaruh ponsel Sung Min di meja sebelah tempat tidurnya. “Orang tuanya sedang berada di Jepang. Minggu depan baru bisa kembali ke Korea.” Hee Chul menghela nafas. “Aku mau pulang mengambil beberapa pakaian untuknya. Kau baik-baik saja walau kutinggal sendirian?”

Eun Soo mengangguk kecil tanpa sedikit pun mengalihkan perhatiannya dari pria yang berbaring itu. Hee Chul keluar dari ruang itu. Membuat ruangan kembali tenang dan seketika itu juga air mata Eun Soo meluncur begitu saja.

Gadis itu menghapus kasar air matanya namun sia-sia saja. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan. Tapi akhirnya ia menutup mulutnya menggunakan tangannya karena tidak mampu menahan isakannya sendiri. Ia merasa lega karena ketakutannya tadi tidak nyata, hanya pikirannya semata.

Tidak tahu berapa lama Eun Soo terisak, hingga ia mengangkat kepalanya dan matanya bertemu dengan mata lain yang sedang mengawasinya.

Pria asing itu tersentak kaget karena melihat air mata Eun Soo. “O! Mi-mian, mianhae,” ucapnya terbata merasa tidak enak.

Eun Soo tidak kalah kaget dari pria asing itu, tanpa berpikir lagi ia langsung berlari keluar dari ruangan itu. Ia tidak ingin ada orang yang melihatnya menangis seperti ini terlebih orang asing.

Pria itu hendak mengejar gadis itu namun langkahnya tertahan. Ia mengacak rambutnya kesal. “Walau waktunya kurang tepat, namun senang bertemu denganmu lagi nona pembenci hujan yang suka hujan-hujanan,” gumamnya seraya tersenyum tipis. Lalu ia beralih kepada tubuh Sung Min yang terbaring lemah di atas ranjang dengan pandangan mengiba. “Hyeong, kenapa bisa seperti ini?” Ia duduk di salah satu kursi yang berada di sisi ranjang sambil terus memperhatikan Sung Min.

Bingung ingin melakukan apa lagi, pria itu mengambil PSP dari dalam tasnya lalu menyambungkan earphone ke telinganya dan mulai tenggelam dalam dunianya sendiri.

Entah berapa lama ia menghabiskan waktu untuk bermain, sampai ia melihat pintu ruangan itu terbuka dan masuklah seorang pria sambil membawa sebuah tas pakaian. Pria yang tidak pernah dilihatnya selama ini.

Pria yang baru masuk itu terlihat terkejut dengan keberadaannya di ruang ini. “Maaf, Anda siapa?” tanyanya heran. “Kenalannya Sung Min?”

Ia melepas earphone di telinganya seraya berdiri. “Annyeonghaseyo, joneun Cho Kyu Hyun imnida,” sapanya membungkuk hormat. “Saya teman-nya Sung Min hyeong.”

“Kim Hee Chul, tetangganya” Ia meletakkan tas yang ia bawa di pojok ruangan. “Ah, dimana Eun Soo? Seharusnya ia ada disini,” ucapnya seraya melihat ke seluruh penjuru ruangan.

Kyu Hyun menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti. Otaknya berputar cepat dan mengingat gadis yang ia temui tadi saat memasuki ruangan ini. Namun saat ia hendak bersuara, Hee Chul keburu berjalan keluar ruangan.

Kyu Hyun kembali duduk di kursinya. “Eun Soo? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu,” batinnya dalam hati. Ia berpikir keras berusaha mengingat nama itu.

Kyu Hyun menjentikkan jarinya karena berhasil mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. “Ah, matjeo! Adiknya Sung Min hyeong.”

“Jadi siapa pria tadi?” tanya Kyu Hyun. “Ah! Sung Min hyeong pernah cerita tentang kakak-adik tetangganya. Jadi itu pasti kakaknya.” Kyu Hyun manggut-manggut, puas dengan jawabannya atas pertanyaannya sendiri.

“Jadi kenapa gadis itu menangis melihat Sung Min hyeong?” Kyu Hyun memiringkan kepalanya sambil berpikir. “Lalu kenapa tadi ia langsung pergi? Karena aku memergokinya sedang menangis?”

“Dimana dia sekarang? Apa aku harus mencarinya?”  Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Tapi, kakaknya sedang mencarinya. Dan siapa aku? Kenapa aku harus mencarinya?” Saat ia sibuk dengan pertanyaan yang dijawabnya sendiri, ia mendengar suara erangan.

Sung Min membuka matanya perlahan. Sesekali ia mengerjapkan matanya guna membiasakannya dengan cahaya lampu ruangan itu. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya lalu melihat Kyu Hyun berada di sebelahnya yang juga sedang melihat ke arahnya.

Hyeong? Kau sudah sadar?” tanya Kyu Hyun.

Sung Min tersenyum samar. “Tahu tidak, kau itu sangat berisik.” Ia berusaha mendudukan dirinya di ranjang.

Dengan sigap Kyu Hyun memencet tombol yang berada di dekatnya yang membuat ranjang Sung Min menjadi setengah duduk. “Mian, hyeong kalau aku mengusikmu. Apa yang terjadi padamu, hyeong? Kenapa kamu bisa pingsan seperti ini?”

Sung Min menyentuh pelipisnya pelan. “Sebelum kujawab, tolong panggilkan dokter dahulu, Kyu.”

***

Begitu keluar dari ruangan, Hee Chul langsung mengambil ponselnya. Ia ingin mengetahui keberadaan adiknya namun merasa tidak enak bila perbincangannya di dengar orang asing. Hee Chul menghubungi ponsel Eun Soo namun tidak diangkat. “Kemana kau, Eun Soo-ya?” ucapnya selagi menunggu sambungan telepon yang kedua kali. Baru saja Hee Chul ingin memutuskan hubungan teleponnya, terdengar suara dari seberang telepon.

Oppa.”

“Eun Soo, neo eodiya? Kenapa tiba-tiba menghilang?” tanya Hee Chul khawatir.

Mianhae, oppa. Aku ada di kantin rumah sakit.”

“Baiklah, tunggu aku di sana.” Hee Chul memutuskan hubungan teleponnya lalu berjalan cepat menuju tempat Eun Soo. Setelah beberapa menit, ia sampai di kantin rumah sakit dan melihat adiknya di sana. Ia segera menghampirinya.

Oppa.” Eun Soo tersenyum samar. “Maaf membuat oppa khawatir. Aku hanya merasa lapar, jadi aku ke sini.”

Hee Chul mengambil tempat di sebelah gadis itu. “Kata dokter, tidak ada luka serius. Jadi kau tidak perlu terlalu khawatir. Sung Min akan baik-baik saja.” Eun Soo mengangguk. Pria itu mendesah, “aku tahu, awalnya kau berpikir, ini akan sama seperti dua tahun yang lalu, kan?”

Eun Soo tehenyak mendengar ucapan kakaknya itu. “Eo-eottokhae ara?

Hee Chul menatap lekat mata gadis itu. “Matamu yang berbicara seperti itu.” Ia menggenggam tangan Eun Soo. “Tapi ini berbeda dengan dua tahun lalu. Tenanglah, dia tidak akan meninggalkan kita.”

Eun Soo mengangguk lagi. “Aku hanya sedikit trauma dengan hal yang berbau kecelakaan dan rumah sakit,” ucapnya lalu tersenyum getir.

“Sudahlah. Ayo kita kembali ke kamarnya Sung Min.” Hee Chul bangkit dari duduknya diikuti Eun Soo. Mereka berjalan beriringan. “Tadi saat aku kembali ke kamarnya Sung Min, ada seorang pria di sana. Katanya, dia teman-nya Sung Min, namanya Cho Kyu Hyun. Kau mengenalnya?” tanya Hee Chul.

Eun Soo menautkan alisnya. “Aku belum pernah mendengar nama itu.”

Hee Chul mengangguk kecil. Mereka berjalan dalam diam hingga mereka tiba di depan ruangan Sung Min. Saat itu seorang dokter dan dua orang suster keluar dari dalam ruangan Sung Min.

Sung Min menoleh ke arah pintu yang terbuka. Senyumnya mengembang begitu mengenali dua wajah yang memasuki kamarnya. “Hyeong, Eun Soo, kalian dari mana?”

Oppa baik-baik saja?” cecar Eun Soo langsung berlari ke arah Sung Min.

Sung Min mempertahankan senyumnya. “Bisa kamu lihat sendiri. Kalian dari mana?”

Hee Chul tersenyum kecil melihat keadaan Sung Min yang baik-baik saja. “Dari kantin. Adikku yang satu ini kelaparan karena energinya habis untuk mengkhawatirkanmu,” ucapnya asal.

“Jangan dengarkan, oppa.” Eun Soo menatap sinis kakaknya lalu kembali menatap Sung Min tapi matanya menangkap sesosok orang asing di seberang tempatnya berdiri. Ia sedikit terlonjak karena orang asing itu adalah pria asing yang memergokinya menangis tadi.

Sung Min menangkap keterkejutan Eun Soo akan ‘pria asing’ itu. “Oh ya, hyeong, Eun Soo kenalkan, dia temanku namanya Kyu Hyun. Dia anak dari mitra kerja ayah.”

Kyu Hyun membungkuk dengan canggung, “Cho Kyu Hyun.”

Eun Soo juga balas membungkuk tidak kalah canggung, “Kim Eun Soo.”

“Kalian seumur, jadi kurasa kalian berdua bisa berteman baik.” Sung Min menatap Eun Soo dan Kyu Hyun bergantian.

Eun Soo menepuk pundak Sung Min, “oppa, apa yang telah terjadi? Kenapa bisa seperti ini?”

“Aku hanya kelelahan ditambah anemia,” jawab Sung Min.

“Makanya oppa jangan hanya memikirkan Café saja, tapi tubuh oppa juga,” pesan Eun Soo khawatir.

Sung Min membelai rambut gadis itu. “Ne, arasseo. Maaf sudah membuat kalian semua khawatir. Oh ya, bukannya hyeong harus kembali ke China besok? Kalau kalian ada keperluan lain, kalian lakukan saja. Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja.”

“Jadi oppa mengusir kami?” tanya Eun Soo dengan tampang cemberut.

A-ani, ani,” jawab Sung Min salah tingkah. “Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya-.”

“Aku tahu, oppa,” potong Eun Soo cepat lalu terkekeh. “Baiklah, aku pulang dahulu membantu Hee Chul oppa mengemasi barang. Nanti malam aku kembali ke sini.”

Hee Chul menatap Eun Soo tidak setuju. “Nanti malam? Siapa yang akan mengantarmu?”

“Aku bisa pergi sendiri.”

“Tidak bisa!” sergah Hee Chul dan Sung Min berbarengan. “Aku tidak akan mengijinkanmu. Besok saja kau ke sini lagi,” lanjut Hee Chul.

Eun Soo memasang tampang kesal. “Oppa, aku sudah dewasa.”

“Tapi tetap saja kau itu perempuan, Eun Soo-ya. Tidak aman bagi seorang perempuan keluar malam-malam,” timpal Sung Min.

“Kalau begitu, aku tinggal di sini saja. Oppa bereskan barang sendiri saja. Aku mau menemani Sung Min oppa,” ancam Eun Soo.

Hee Chul menjadi emosi. “Mwo? Jadi begini perlakuanmu pada kakak kandungmu? Kau tahu kan aku jarang-jarang bisa pulang ke sini.” Tiba-tiba di otaknya terlintas sesuatu lalu ia mengerling nakal. “Ah~ Aku tahu.”

Eun Soo merasakan ada maksud terselubung dibalik ucapan kakaknya itu. “Apa?” tanyanya ketus.

Hee Chul tersenyum misterius. “Apa aku perlu mengatakan apa yang tadi kita bicarakan saat di bus. Kalau kau-”

Eun Soo membulatkan matanya mengetahui maksud terselubung itu. “OPPA!” potongnya keras seraya menutup mulut Hee Chul. Seruannya membuat Sung Min dan Kyu Hyun membelalakan matanya kaget. “Arasseo, arasseo. Kita pulang, oppa. Kita pulang. Annyeong, Sung Min oppa, Kyu Hyun-ssi!” ucapnya langsung menarik Hee Chul keluar dari ruangan. Sedangkan pria itu hanya terkekeh kecil.

Seketika itu juga, ruangan itu kembali hening. “Wah, serunya punya adik atau kakak seperti mereka. Suasana jadi ramai,” ujar Kyu Hyun lalu terkekeh. “Tidak seperti kita yang anak tunggal. Apalagi orang tua kita juga jarang di rumah. Benar-benar membuat iri.”

“Benar, Kyu. Beruntung aku bisa mengenal mereka.”

“Gadis itu ekspresif sekali,” komentar Kyu Hyun kembali duduk.

“Ya, dia gadis yang baik walau terkadang suka membuatku khawatir. Namun tidak seperti kau yang suka merepotkanku,” balas Sung Min lalu tertawa tanpa suara.

Kyu Hyun menatap tajam Sung Min. “Apa maksudmu, hyeong?” Ia merenggangkan jarinya siap untuk meninju. “Jangan salahkan aku kalau hyeong harus dirawat lebih lama disini.”

Sung Min berusaha melindungi tubuhnya. “Ya! Ya! Aku ini pasien, kau tidak boleh menyiksaku, Kyu.”

***

Seorang suster menyibak tirai yang menutupi sebuah jendela besar di ruang itu. Sinar matahari menyeruak masuk membuat ruangan itu menjadi terang seketika. Sung Min terusik olehnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum benar-benar terbuka.

“Selamat pagi,” sapa suster itu. “Mau saya siapkan sarapannya sekarang?”

“Selamat pagi. Tidak perlu, nanti saya sendiri saja,” jawab Sung Min sopan dan suster itu pun keluar dari ruangan.

Sung Min meraih i-phonenya yang terletak di meja di sebelah ranjangnya. Ia mengutiknya sebentar lalu kembali menaruhnya tanpa minat. “Apa pekerjaan mereka lebih penting daripada anaknya ini?” ucapnya lalu menghela nafas.

Seketika itu juga pintu ruangan itu terbuka dan muncul wajah seorang gadis yang selalu menemani hari-harinya. “Sung Min oppa!” sapanya dengan senyuman lebar.

Sung Min merasakan bibirnya tertarik dan membentuk sebuah senyuman. Ia memang tidak pernah bisa untuk tidak tersenyum ketika melihat wajah cerah gadis itu, walaupun pikirannya sedang kalut sekali pun. “Eun Soo, pagi sekali kau sudah ke sini. Pesawat Hee Chul hyeong sudah take off?”

“Setelah mengantar oppa, aku langsung ke sini. Mungkin sebentar lagi take off.”

Gomawo, aku jadi tidak kesepian karena kamu menemaniku lewat telepon semalam.”

Eun Soo sedikit tersipu dan mengalihkan matanya dari pria itu dan menangkap nampan berisi makanan di meja seberang. “Oppa, belum sarapan?”

Sung Min mengikuti arah pandang Eun Soo lalu kembali menatap gadis itu. “Aku baru bangun.”

Eun Soo berjalan mengitari ranjang pria itu menuju nampan berisi sarapan. Ia merobek plastik yang menutupinya dan mengambil mangkuk berisi bubur dan sendok. “Aku suapi ya?”

Sung Min menaikkan sebelah alisnya lalu terkekeh. “Umurku sudah terlalu tua untuk disuapi, Eun Soo-ya.”  Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil mangkuk bubur itu namun gadis itu menjauhkannya.

“Ayolah, oppa. Dulu oppa yang sering menyuapiku saat aku sakit, sekarang aku ingin membalasnya,” rajuk Eun Soo. “Ayolah, oppa. Aa~.” Ia mendekatkan sendok berisi bubur ke arah mulut Sung Min.

“Aku bisa sendiri, Eun Soo-ya,” elak pria itu. Eun Soo memasang tampang merajuk seperti anak kecil sehingga membuat Sung Min tidak sampai hati. “Tapi setelah ini, bawa aku keluar dari ruangan ini ya?” tawarnya membuat kesepakatan.

Eun Soo mengangguk cepat. “Call.” Akhirnya Sung Min membuka mulutnya dan disuapi gadis itu. Ia dapat merasakan wajahnya memanas karena malu.

Eun Soo tersenyum puas dan menyuapi Sung Min hingga bubur itu habis dalam diam. Ia menaruh kembali mangkuk ke atas nampan lalu menaruhnya di luar ruangan.

“Sekarang tepati janjimu. Bawa aku keluar dari sini,” ucap Sung Min sudah duduk di tepi ranjangnya.

Eun Soo tertawa kecil, “arasseo.” Ia membantu Sung Min membereskan selang infusnya lalu memapah pria itu.

Sung Min menarik lengannya dari tangan gadis itu. “Aku masih mampu berjalan sendiri. Jangan perlakukan aku seperti orang lemah, Eun Soo-ya,” tolaknya lembut.

Eun Soo sedikit kecewa karena pria itu menolak perlakuannya. “Mianhae, oppa,” lirihnya lalu berjalan beriringan dengannya dalam diam.

Entah mengapa tidak ada diantara mereka berdua yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan lebih dahulu. Membuat rasa canggung hadir melingkupi mereka. Rasa yang tidak mereka kenal karena tidak pernah mereka rasakan saat bersama sebelumnya.

Mereka berdua berjalan menuju taman rumah sakit. Di sana juga banyak pasien lain yang bertujuan sama dengan mereka, mencari udara segar. Mereka duduk di salah satu kursi taman yang ada sambil menikmati siraman sinar matahari yang mungkin dapat mencairkan kecanggungan diantara mereka berdua.

“Sung Min hyeong!” panggil seseorang tiba-tiba membuat baik si empunya nama maupun Eun Soo menoleh ke asal suara.

“Kyu,” ucap Sung Min. “Pagi sekali kau sudah ke sini. Kau tidak ada kuliah?” tanyanya lagi.

“Memangnya aku tidak boleh datang, hyeong?” tanggap Kyu Hyun dengan tampang tidak senang.

Ani, bukan begitu maksudku,” balas Sung Min.

Kyu Hyun terkekeh. lalu menoleh ke gadis yang duduk di sebelah kiri Sung Min lalu tersenyum ramah. “Wah, ternyata aku keduluan. Annyeong, Eun Soo. Senang bertemu denganmu lagi.”

Eun Soo tersenyum samar menanggapinya seraya membungkuk memberi salam. Ia memang tidak cepat bergaul dengan orang asing. Ia mudah merasa canggung pada orang asing yang menggunakan banmal seperti Kyu Hyun.

Kyu Hyun balas menunduk dan kembali pada Sung Min. “Kapan hyeong diperbolehkan keluar dari sini?” tanyanya sambil mengambil tempat di sisi kanan pria yang lebih tua dua tahun darinya itu.

“Sebenarnya aku sudah boleh pulang hari ini, namun Hee Chul hyeong menyuruhku beristirahat satu hari lagi.”

“Lagian hyeong cari gara-gara saja.”

“Memangnya ada yang mau terjadi seperti ini? Kalau bisa memilih, semua orang juga maunya sehat-sehat saja, Kyu.”

Kyu Hyun manggut-manggut. “Pokoknya, setelah keluar dari sini hyeong harus mentraktirku.”

Sung Min menaikkan sebelah alisnya, “ne? Kenapa aku harus mentraktirmu?”

“Karena hyeong telah membuatku repot.”

“Repot?”

“Ya, seorang Lee Sung Min telah memaksaku datang ke sini karena ia tidak bisa untuk tidak bertemu dengan seorang yang tampan bernama Cho Kyu Hyun ini walau satu hari pun,” jawab Kyu Hyun asal seraya memeletkan lidahnya. “Sebenarnya karena aku ingin bertatap muka dengan gadis itu,” batinnya.

Sung Min memukul kepala Kyu Hyun cukup keras. “Dasar kurang ajar! Sejak kapan aku pernah memintamu begitu? Kau yang selalu merepotkanku.”

“Ah, appeo!” ringis Kyu Hyun memijit kepalanya yang berdenyut. “Eun Soo, marahi Sung Min hyeong. Ia memukulku keras sekali,” adu Kyu Hyun manja melihat melewati bahu Sung Min namun ternyata gadis itu sudah tidak ada di sana. “Ne? Sejak kapan?”

Sung Min membalik tubuhnya dengan cepat untuk melihat gadis itu, namun tidak ada siapa-siapa di sana.

“Dia hari ini diam sekali. Ada apa dengan kalian? Kalian bertengkar ya, hyeong?” tanya Kyu Hyun.

Sung Min tersenyum kecut. “Na ttaemune.”

“Tuh kan, hyeong selalu merepotkan,” ucap Kyu Hyun asal lagi dan bersiap melindungi kepalanya namun ternyata pria di sampingnya itu tidak bereaksi. “Bagaimana ceritanya?”

“Aku menolak saat ia membantu memapahku tadi dan tiba-tiba muncul perasaan canggung diantara kami. Sesuatu yang tidak pernah kami alami saat kami sedang bersama,” cerita Sung Min.

“Ya, mungkin dia kecewa karena hyeong menolaknya.”

“Tapi aku menolaknya karena aku tidak ingin dianggap lemah olehnya.”

“Wanita memang sensitif, hyeong. Seharusnya kau terima saja niat baiknya.”

“Tumben kau bisa menasihatiku, yang kutahu di otakmu hanya game dan hal-hal aneh lainnya,” sindir Sung Min.

Kyu Hyun meregangkan jarinya seraya menyeringai. “Maksud, hyeong? Sepertinya hyeong ingin berlama-lama tinggal di rumah sakit ini.” Sung Min tersenyum samar menanggapi ucapannya. Karena tanggapan yang tidak sesuai harapan, Kyu Hyun kembali serius. “Jadi sebenarnya bagaimana perasaan hyeong terhadap gadis itu?”

Sung Min tertohok mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut pria itu. Ia menatap Kyu Hyun dengan pandangan bertanya. “Jujur, aku tidak pernah memikirkannya.”

“Jadi?”

“Aku hanya merasa terbiasa ia ada di sekitarku.”

“Apa hyeong tidak pernah berpikir kalau ternyata gadis itu sudah mempunyai kekasih, apa yang akan hyeong lakukan?”

Sung Min menggeleng lemah. “Dia tidak mempunyai kekasih. Lagipula aku sudah merasa cukup bila ia berada di dekatku.”

Hyeong yakin? Hanya cukup melihatnya, walau ia bersama pria lain?” tanya Kyu Hyun. Ia menatap mata Sung Min dalam seperti mencari sesuatu di dalamnya.

Like a shadow by my side you always

Quietly come to me

To see if I’m hurt, to see if I’m lonely everyday

With feelings of yearning, you come to me

Even if the world makes me cry, I’m okay

Because you are always by my side

                                                            Kyu Hyun – Hope Is A Dream That Never Sleep

Sung Min berpikir keras, “i-iya.” Sejurus ia mengucapkannya, hatinya terasa seperti di pukul keras oleh benda berat. Kyu Hyun menatap skeptis pria disebelahnya. Ia tidak puas dengan jawaban itu karena ia melihat luka di mata Sung Min saat mengucapkan kata itu.

“Aku lelah. Aku mau kembali ke kamar,” lanjut Sung Min seraya bangkit dari duduknya dan meninggalkan Kyu Hyun yang masih terpaku. Setelah beberapa detik, Kyu Hyun beranjak menyusul Sung Min.

——————————————————–

Hi, thank you for your time for reading my story. Hope you enjoy reading the story. I’m still learning in writing, so I need critic to improve my skill.

Mind to leave a comment?

XOXO,

Sylvia ♥

Advertisements

8 thoughts on “[Chapter 2] Like Rain, Like Love

  1. astagaa xD lama bgt aku tidak mengunjungi blog ini dan tiba-tiba aku menganga,
    tau-tau udh chap4 -_- wuih tegaa..

    unni suka suju ya?

    semangat berkarya ya unni!

    1. ㅋㅋㅋ iyaa, aku suka banget sama Suju, tapi akhir-akhir ini lagi beralih ke EXO nih.

      Kamu yang kemana aja nih, lg sibuk ya?

      Thankss yaa, semangat buat kamu juga 🙂

      1. ayo sini-sini gabung sama exostand unni *smirk*

        hihihii xD aku minggu ini lg pekan uts -__- sampe minggu dpn, sedangkan sklh lain bilang ‘blm uts’ ‘aku msh libur’ =_=”

        okesip unni ^-^9

        1. Tanpa kamu ajak pun, saya udah jadi EXOstand kok hihi

          Wah, semangat ya utsnya! Semoga nilainya bagus
          Haha gapapa, lebih cepat lebih baik, jadi nanti kamu uda selesai, mereka baru mulai uts

          1. sip hehe xD

            semangat ^-^ terimakasih 😀
            iya juga sih, aku sdh selesai uts mereka msh berusaha keras kekee

            wee~ udh ada yg kelima ^_^
            unni kok buat cerita cepet ya -___- aku berasa kyk kura-kura..

          2. Sama2, sayang.
            Liat sisi positif dari setiap masalah, buat kamu lebih bersyukur dengan keadaan kamu.
            *sok bijak mode on
            Hahaha

            Mau tau rahasianya?
            Ini ff udah 2 tahun yang lalu selesai dan teronggok begitu saja di laptop. Blkgn baru buka blog dan akhirnya bs di post ini hahaha
            Dulu waktu msh SMA, aku srg nulis, byk cerita yg msh stgh jalan blm dilanjutin. Tp smjk kuliah, ud sibuk sana sini jd ga sempet nulis lagi haha

  2. Jangan2 Kyu oppa suka sama Eunsoo dan gelagatnya seperti ingin th ttg perasaan Sungmin hyung nya thdp Eunsoo apakah ia menyukai atau tdk, pdhl Eunsoo sbtlnya mempunyai perasaan yg lebih u Sungmin oppa lbh dari sekedar oppa dan dongsaeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s