[Chapter 3] Like Rain, Like Love

Poster Like Rain, Like Love Chapter 3

Written by Sylviamnc

It’s my good fortune to have met you

And like this, I get deeper into it

I want you who is like cotton candy to fall in love with me, and end my one-sided love

Super Junior – Midnight Fantasy

 

Eun Soo menatap gedung rumah sakit di hadapannya lalu mendesah singkat. Entah mengapa, gedung rumah sakit dapat membuat perasaannya menjadi tidak enak. Ia mengambil telepon genggamnya untuk melihat jam. “19.39.” Ia melangkahkan kakinya dengan pelan memasuki gedung itu.

Eun Soo berjalan mendekati ranjang Sung Min. Pria itu tengah terlelap di atasnya. Ia meletakkan tas plastik yang ia bawa di atas meja di sisi ranjang itu lalu mengambil tempat duduk. Ia menggenggam lembut tangan pria itu.

Setelah cukup lama, pintu ruang itu terbuka kembali dan masuklah Kyu Hyun. Ia melihat Eun Soo yang sedang menggenggam tangan Sung Min. Ia merasa menjadi pengganggu jika berada di ruang itu maka memutuskan untuk keluar. Tapi saat ia hendak berbalik, gadis itu menyadari keberadaannya sehingga ia mengurungkan niatnya. “Annyeong, Eun Soo,” sapanya ramah.

Eun Soo sedikit salah tingkah karena keberadaan Kyu Hyun yang tiba-tiba. “An-annyeong, Kyu Hyun-ssi,” balasnya sedikit terbata.

Kyu Hyun tersenyum lalu mengambil tempat di sebelah gadis itu. “Sudah lama berada di sini?”

“Belum.” Eun Soo tiba-tiba teringat peristiwa tadi pagi. “Ah, yang tadi pagi, maaf. Aku tidak bermaksud pergi begitu saja,” ucapnya seraya membungkuk dari duduknya.

Kyu Hyun mengerutkan keningnya, berpikir sejenak dan mengerti maksud gadis itu. “Dwaesseo, salah kami juga yang tidak melibatkanmu dalam percakapan kami.”

Eun Soo tersenyum tipis lalu kembali menatap wajah Sung Min. Keheningan meliputi mereka berdua.

Kyu Hyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia paling benci suasana hening-canggung-seperti ini. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka suara. “Ah, mian, Eun Soo. Aku waktu itu tidak sengaja melihatmu menangis,” katanya sedikit canggung.

Eun Soo menoleh sekilas dan kembali ke arah Sung Min. “Anggap saja kau tidak pernah melihatnya.” Ia tersenyum pahit mengingat peristiwa itu, namun tiba-tiba ia tersentak langsung menatap Kyu Hyun. “Kau tidak memberitahu Sung Min oppa, kan?”

Kyu Hyun sedikit kaget melihat sikap gadis itu. Tiba-tiba saja di otaknya terlintas pikiran untuk menjahili gadis itu. Ia memasang tampang bersalah dan memilih untuk tidak menatap mata gadis itu. “Eung…” ucapnya ragu sambil menggaruk pipinya.

Eun Soo membulatkan matanya lalu menghela nafas. “Pantas saja oppa jadi seperti itu,” lirihnya kecewa.

Kyu Hyun menunduk menahan senyuman geli diwajahnya terlihat. “Mian, aku tidak tahu kalau itu harus dirahasiakan,” lanjutnya berakting.

Eun Soo menatap Kyu Hyun iba. Ia memang kesal karena pria itu memberitahu Sung Min, namun itu bukan sepenuhnya salah dia. Ia memaksakan tersenyum, “ini bukan salahmu. Aku yang membuatnya jadi seperti ini.”

Kyu Hyun memasang tampang polos. “Kalau aku boleh tahu, apa hubunganmu dan Sung Min hyeong?”

 

Even though i wanted to believe that smile was just for me

It probably isn ’t, right? but still.. just maybe…

Super Junior – What If

 

Eun Soo menggeleng. “Kami hanya tetangga yang sudah seperti keluarga.” Hatinya terasa nyeri begitu menyadari kenyataan dan mungkin selamanya hanya akan seperti itu.

Kyu Hyun membulatkan mulutnya. “Habis kau terlihat sangat-” Kyu Hyun berdeham sebelum melanjutkan kalimatnya, “meyayanginya,” lanjutnya hati-hati.

“Tentu saja, kami kan sudah kenal sejak kecil,” elak Eun Soo berusaha menahan perasaannya.

“Maksudku, bukan seperti kakak-adik tapi antara pria dan wanita,” tutur Kyu Hyun langsung.

Eun Soo menghela nafas. “Apa terlihat seperti itu?” Kyu Hyun mengangguk kecil. Eun Soo kembali tersenyum pahit sambil menatap wajah Sung Min. “Jangan-jangan oppa sudah mengetahuinya, maka ia bersikap seperti tadi,” gumamnya dalam hati.

“Bersabarlah, Sung Min hyeong memang lambat untuk hal seperti ini,” ujar Kyu Hyun.

Eun Soo sedikit terhenyak, sambil merutuk dalam dalam hati, “kenapa aku harus membicarakan hal ini dengannya?” Ia mengambil nafas lalu menghembuskannya berharap bisa melegakan hatinya tapi sepertinya tidak berhasil.

“Eun Soo,” panggil Kyu Hyun membuyarkan lamunan gadis itu. Eun Soo menggumam kecil. “Bolehkah aku menjadi temanmu?”

Eun Soo menaikkan sebelah alisnya lalu terkekeh kecil, “pertanyaan macam apa itu? Aku sudah tidak pernah mendengarnya semenjak-” Ia berpikir sejenak, “-10 tahun lalu, kurasa,” lanjutnya dengan nada mengejek.

Kyu Hyun menyipitkan matanya, merasa tersinggung. “Apa yang salah dengan ucapanku?”

Eun Soo menutup mulutnya untuk menghalau tawanya yang semakin keras. Lucu baginya melihat ekspresi pria itu.

Kyu Hyun membulatkan matanya. “Aish! Dia malah menertawakanku,” desisnya kesal.

Eun Soo berusaha menghentikan tawanya. “Mian, aku tidak bermaksud menertawakanmu. Hanya saja-.” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, ia tak kuasa menahan tawanya.

Kyu Hyun memutar bola matanya. “Tertawalah sampai kau puas,” ucapnya ketus.

Eun Soo berusaha mengontrol tawanya. “Mian, mian. Habisnya pertanyaanmu kekanakan sekali.”

Ya!” seru Kyu Hyun mulai merasa kesal karena tawa gadis itu tidak berhenti juga.

Tiba-tiba terdengar suara erangan, yang ternyata adalah suara Sung Min. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.

Eun Soo menyikut lengan Kyu Hyun. “Berisik!” desisnya lalu menatap Sung Min. “Oppa sudah bangun?” tanyanya.

Sung Min tersenyum melihat wajah gadis itu, “Eun Soo? Sudah lama berada di sini? Kenapa tidak membangunkanku?”

Eun Soo tersenyum. “Belum lama. Lagipula oppa terlihat sangat nyenyak, mana bisa aku membangunkanmu.”

Sung Min membelai lembut rambut gadis itu. Lalu ia menyadari keberadaan Kyu Hyun di samping gadis itu. “Kyu?”

Kyu Hyun mencibir, “aku seperti nyamuk penganggu di antara kalian.”

Sung Min tersenyum kecil. “Kalian berdua sudah bisa berteman dengan baik?” tanyanya menatap kedua orang tersebut.

“Ya, terlalu baik hingga dia sudah puas menertawakanku,” jawab Kyu Hyun menyindir gadis itu.

Eun Soo terkekeh lagi. Sung Min menaikkan sebelah alisnya lalu tersenyum. “Sepertinya aku sudah ketinggalan banyak cerita. Kalian lebih cepat akrab dari yang aku duga.”

“Oh ya, oppa. Aku membuat ini sebelum kesini.” Eun Soo mengeluarkan sebuah kotak dari tas plastik yang ia bawa. Ia membuka tutup kotak itu dan seketika itu juga aroma cokelat memenuhi seluruh penjuru ruangan.

Mata Sung Min berbinar melihat isi kotak itu. “Puding coklat!” serunya bersemangat.

Kyu Hyun menghirup wangi coklat tersebut dan terlihat sangat menikmatinya. “Sudah lama aku tidak makan puding coklat.”

“Memangnya aku akan memberikannya untukmu?” tanya Eun Soo seraya mengerling jahil.

Ne? Aku hanya berbicara saja, bukan berarti aku mau makan puding buatanmu. Aku juga tidak mau sakit perut dan masuk rumah sakit setelah memakannya,” ejek Kyu Hyun.

Eun Soo tersinggung mendengarnya. “Mwo? Jadi kau mau bilang kalau puding buatanku ini berbahaya?” Suaranya meninggi seraya menatap tajam pria di sebelahnya.

Kyu Hyun memasang tampang mengejek. “Ya, benar sekali, Kim Eun Soo-ssi.” Ia memberi penekanan pada nama gadis itu.

“Memangnya kau tahu apa tentangku, Cho Kyu Hyun-ssi? Bahkan kita belum  melewatkan 24 jam sejak pertama kali bertemu” desis Eun Soo dengan penekanan saat menyebutkan nama, seperti yang dilakukan pria itu.

Sung Min tertawa melihat perdebatan mulut mereka berdua. Baik Kyu Hyun maupun Eun Soo langsung menatap jengah pria itu. “Oppa (hyeong), kami tidak sedang melucu!” seru mereka kompak dan membuat Sung Min terpingkal. “Kalian cocok sekali.”

Ya! Kenapa kau mengikutiku?” ucap Eun Soo ketus.

Ya! Siapa juga yang mengikutimu? Kau yang meniru ucapanku,” balas Kyu Hyun tak kalah ketus.

Sung Min meraih tangan kedua orang itu. “Kalau kalian tidak mau dikeluarkan paksa dari sini, lebih baik kalian berhenti sekarang. Lagian kalian ini sudah umur berapa, masih saja bertengkar untuk hal sepele seperti ini.” Akhirnya kedua orang itu membungkam mulut mereka. Sung Min tersenyum. “Begini lebih baik. Jadi bisa kita makan puding coklat ini? Aku sudah tidak sabar.”

Eun Soo tersenyum. “Tentu, oppa. Oppa bisa makan semuanya.”

Kyu Hyun hanya menghela nafas lalu secercah senyum menghiasi wajahnya. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya ia bisa beradu mulut dengan seorang gadis yang baru saja ia kenal 24 jam yang lalu. Ada sesuatu yang spesial dalam diri Eun Soo yang membuat ia merasa nyaman berada di sekitarnya, seperti sudah lama saling mengenal. “Mungkin ini salah satu alasan Sung Min hyeong menyukainya,” pikirnya.

***

Setelah dua malam Sung Min diopname, akhirnya ia pulang. Hari itu juga, Sung Min kembali beraktivitas mengurusi Cafénya.

Eun Soo terlihat berada di dalam Café itu. Ia sedang sibuk memikirkan konsep untuk tugasnya. Ia menghembuskan nafas lalu menaruh kepalanya di meja.

Sung Min menghampiri meja Eun Soo sambil membawa sepiring cheese cake. “Otthae? Sudah dapat konsepnya?” tanyanya seraya duduk di hadapan gadis itu.

Eun Soo mengangkat kepalanya dan menopang dagunya. Ia menggeleng lemah sambil membetulkan letak kacamata di hidungnya.

Sung Min menatap gadis itu iba lalu menyodorkan sepiring cheese cake. “Makan saja dulu, siapa tahu nanti dapat idenya.”

Eun Soo mengangguk lemah lalu menyuapkan cheese cake ke mulutnya. Ia tersenyum begitu cheese cake itu lumer di lidahnya. “Masitta.”

Sung Min ikut tersenyum. “Maaf, aku tidak bisa menemanimu. Karena diopname kemarin, aku sudah tertinggal banyak mata kuliah, jadi aku harus mengejarnya.”

Gwaenchanha, oppa. Aku akan berusaha sendiri.”

“Bagaimana kalau hari Sabtu nanti kita makan malam bersama?” tawar Sung Min berusaha membangkitkan semangat gadis itu. “Jam enam ya di rumahku.”

Eun Soo mengangguk lemah. Sung Min bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar dari Café itu. Ia menstater mobilnya dan melesat pergi menuju kampusnya.

Mata Eun Soo mengikuti pria itu hingga mobil itu tidak tampak dari pandangannya lagi. Semenjak dua orang lain mengetahui perasaanya terhadap Sung Min, semakin sulit baginya untuk mengontrol hatinya sendiri saat berhadapan dengan pria itu.

Seperti wanita pada umumnya, Eun Soo juga ingin kisah cintanya berakhir bahagia. Sebenarnya ia ingin sekali mengungkapkannya, tapi ia tidak cukup berani untuk itu. Ia takut kalau cintanya tak bersambut dan malah menghancurkan hubungan baik mereka selama ini. Tapi ia juga lelah kalau terus-terusan seperti ini.

YA!” seru seseorang tiba-tiba membuat Eun Soo tersentak kaget dan menjatuhkan sendok yang ia pegang. Ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Kyu Hyun dengan senyuman lebar. “Pagi-pagi sudah melamun,” sindir pria itu seraya duduk di hadapan Eun Soo.

Eun Soo menatap Kyu Hyun sinis. “Bukan urusanmu!”

Kyu Hyun terkekeh pelan. “Apa yang sedang kau kerjakan? Kenapa berantakan sekali meja ini?” tanyanya sambil melihat-lihat lembaran kertas yang berserakan di meja itu.

Eun Soo memukul tangan pria itu yang menyentuh kertasnya. Ia mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan di atas meja dan menaruhnya asal di sofa sebelahnya.

Ya! Kenapa kau bertindak seperti aku akan mencurinya?” ucap Kyu Hyun tidak senang.

Eun Soo memaksakan senyum lebar. “Kenapa kau selalu datang menggangguku, Cho Kyu Hyun-ssi?”

Kyu Hyun menyeringai. “Kalau kau merasa begitu, dengan senang hati aku akan selalu melakukannya, Kim Eun Soo-ssi.”

Seorang pelayan wanita datang mengantarkan secangkir Americano dan sepiring brownies – pesanan Kyu Hyun. “Bisa tolong ambilkan sendok untukku, Sae In eonni?” ucap Eun Soo ramah pada pelayan paruh waktu yang sudah dikenalnya itu.

Kyu Hyun menyeruput Americano-nya perlahan lalu menyuapkan sepotong brownies ke mulutnya. “Kopi?” tawarnya melupakan percakapannya tadi.

Eun Soo menerima sendok yang diantarkan pelayan wanita tadi. Ia menyendokan cheese cake ke mulutnya. “Gomawo, aku tidak minum kopi.”

Kyu Hyun menyeruput Americano-nya lagi, “bagaimana perkembanganmu dengan Sung Min hyeong?” tanyanya tiba-tiba.

Eun Soo langsung tersedak begitu mendengar pertanyaan pria itu. Ia meraih segelas air putih dan meminumnya perlahan. “Kau mau membunuhku?”

Kyu Hyun tersenyum. “Aku hanya ingin mengetahui perkembangannya saja.”

“Bukan urusanmu,” jawab Eun Soo datar sambil berusaha mengontrol ekspresi mukanya.

“Aku kan hanya ingin membantu,” ucap Kyu Hyun dengan memasang puppy eyes.

Eun Soo tersenyum geli. “Hentikan! Kau membuatku mual. Aku yang akan mengurusnya.”

Kyu Hyun manggut-manggut mendengar jawaban gadis itu. “Yakin, kau tidak mau kubantu? Aku tidak akan menawarkannya dua kali.”

Eun Soo mengangguk pasti. “Terima kasih atas tawarannya. Aku lebih suka memperoleh hasil dari usahaku sendiri.”

Kyu Hyun menghirup kopinya. “Ya, sudah.”

Eun Soo berpikir sejenak. “Ah, jamkkanman!”

Kyu Hyun menautkan alisnya. Ia hendak bertanya namun gadis itu sudah kembali bersuara. “Aku butuh bantuanmu. Bukan untuk itu, tapi bantu aku menemukan konsep untuk tugasku. Tugasku harus dikumpul besok.” Eun Soo menaruh kembali kertas-kertas tadi ke atas meja.

“Aku sudah katakan, tidak ada yang kedua kalinya dan kau sudah menolaknya tadi. Lagipula bukannya kau lebih suka mendapat hasil dari hasil usahamu sendiri,” tutur Kyu Hyun acuh sambil memakan sepotong brownies lagi.

Eun Soo memasang tampang memohon. “Ayolah, aku benar-benar kehabisan ide.”

Kyu Hyun menggeleng dan bersikap acuh tak acuh. Ia menyibukan diri dengan browniesnya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Eun Soo. Gadis itu terlihat kebingungan dan membuat hatinya tak tega. Ia tersenyum kecil, “karena aku baik hati, aku akan membantumu. Memangnya apa tugasmu?”

Eun Soo mengangkat wajahnya menatap pria itu malas, namun tak kuasa seulas senyum terbentuk di wajahnya. “Aku mendapat tugas untuk mendesain sebuah apartemen, seperti ini hasil desain tiap ruangnya,” ujarnya sambil memperlihatkan beberapa lembar kertas. “Aku hanya belum menemukan warna yang cocok. Warna yang menunjukkan ciri khasku.”

“Lalu, apa ciri khasmu?” tanya Kyu Hyun dengan mata tertuju pada kertas-kertas yang disodorkan gadis itu.

Eun Soo mengangkat bahunya. “Nan molla.”

Kyu Hyun menatap gadis itu jengah. “Ya! Masa kau tidak tahu ciri khasmu sendiri? Kalau begitu, selama ini bagaimana cara kau memberi warna?”

Eun Soo memanyunkan bibirnya. “Aku hanya membuatnya sesuai suasana hatiku.”

Kyu Hyun meminum kopinya. “Kalau begitu, sekarang tinggal buat seperti kata hatimu. Mudah, kan? Kenapa kau harus pusing-pusing berpikir?”

“Kalau begitu mudah, aku juga tidak akan bertanya padamu,” desis Eun Soo kesal lalu mendesah. “Sekarang hatiku sedang kacau, hanya ada warna-warna gelap disana.”

“Kacau?” Kyu Hyun mengerling nakal. “Ah~ Karena perasaanmu yang tak bersambut itu,” godanya.

Eun Soo menatap pria itu tajam. “Sudahlah, aku salah minta bantuanmu,” ucapnya ketus untuk menutupi debaran jantungnya yang mulai bekerja diluar batas normal.

Kyu Hyun terkekeh. “Aigo, ngambek lagi.” Eun Soo tidak mau menatap pria itu. Ia memakan cheese cakenya dengan cepat tanpa peduli pada Kyu Hyun.

Kyu Hyun berusaha menarik perhatian wanita itu namun tidak berhasil. “Ya! Sampai kapan kau mau ngambek seperti ini?” Ia menarik-narik pelan rambut gadis itu. Kyu Hyun merasa lelah mencari perhatian gadis itu. Ia memanggil pelayan. “Banana split dengan es-krim rasa plum, vanila dan mint.” Setelah mencatat pesanan, pelayan itu pun pergi membawa piring dan cangkir bekas makan mereka berdua.

Ice cream?” gumam Eun Soo. Ia berpikir sejenak lalu membulatkan matanya. “Ice cream!” serunya dengan senyum lebar sambil menjentikkan jarinya. “Matja! Kenapa tidak terpikir dari tadi?”

Kyu Hyun menautkan alisnya. “Kau mau pesan es-krim juga?” tanyanya polos.

Eun Soo menggeleng dengan masih mempertahankan senyumnya. “Aniyeo. Gomawo, Kyu Hyun. Kau penyelamatku. Lain kali aku akan mentraktirmu. Aku janji.” Ia mulai mencorat-coret kertas hasil desainnya tadi dengan semangat.

Kyu Hyun semakin tidak mengerti dengan ucapan gadis itu. “Ya! Setidaknya aku harus tahu alasan mengapa seseorang mengucapkan terima kasih padaku.”

Eun Soo menatap wajah pria itu dengan mata berbinar. “Ice cream! Manis, cerah dan ceria. Konsep warna yang cocok untuk desain-desainku ini.”

Kyu Hyun ikut tersenyum. “Lihat, kehadiranku sangat berguna. Sudah seharusnya kau mentraktirku untuk ini,” tuturnya bangga sambil memperhatikan ekspresi gadis itu yang kembali bersemangat.

***

Eun Soo melangkah perlahan melewati koridor kampusnya dengan senyum senantiasa menghiasi wajahnya. Ia tidak peduli tanggapan orang-orang yang melihatnya dengan pandangan bertanya. Satu yang ia tahu, ia sangat senang. Dosennya sangat puas dengan desain ruang dan konsep warna yang dipilih gadis itu.

Tiba-tiba ponselnya bergetar, tanda ada pesan masuk. Ia melihat sederet nomor yang tidak ada dalam kontaknya pada layar ponselnya.

“Temui aku di parkiran kampusmu,” ujar Eun Soo membaca isi pesan itu. “Ah, paling salah nomor,” pikirnya lalu memasukkan ponselnya tak peduli.

Namun sedetik kemudian, benda mungil itu kembali bergetar. Ada pesan masuk lagi. “Pesan ini memang ditujukan untukmu, Kim Eun Soo-ssi,” bacanya heran. Bagaimana mungkin pengirim pesan ini dapat membaca pikirannya. Akhirnya Eun Soo memasukkan handphonenya kembali ke saku celana jeansnya dan berjalan menuju tempat parkiran.

Eun Soo menelusuri tempat parkir yang ramai itu. Ia melongok ke kanan dan ke kiri mencari pengirim pesan itu. Tiba-tiba pandangannya menjadi gelap. Ternyata ada sepasang tangan yang menutupi matanya. “Nuguseyo?” tanyanya berusaha melepaskan tangan itu namun tenaga orang itu lebih kuat. “Nuguya?” Tidak ada jawaban.

Eun Soo menjadi kesal karena dipermainkan. “Ya! Nugu?” serunya keras dan seketika itu juga orang tersebut melepaskan tangannya. Gadis itu segera berbalik namun tidak menemukan pelakunya.

“Bagaimana? Cukup mengganggumu?” bisik seseorang dengan nada menggoda. Gadis itu langsung menoleh dan mendapati Kyu Hyun berdiri di sana.

Ne, sangat menggangguku,” balas Eun Soo dengan nada kesal lalu tersenyum. “Dasar! Aku pikir siapa, ternyata kau.” Ia memukul pelan lengan pria itu dengan ponsel di tangannya.

Kyu Hyun terkekeh. “Aku tahu pasti tugasmu mendapat nilai baik. Maka itu kau harus menepati janjimu untuk mentraktirku sekarang,” ujarnya sambil berjalan menuju mobilnya.

“Bagaimana kau tahu?” Eun Soo berlari kecil untuk dapat menyamai langkahnya dengan langkah kaki pria itu.

“Anggap saja aku mempunyai indera keenam.” Kyu Hyun mengangguk-angguk seraya membuka pintu mobilnya dan mengambil tempat di belakang kemudi.

Eun Soo juga ikut masuk dan duduk di kursi sebelah pria itu. “Baiklah, aku akan menepati janjiku. Silahkan pilih makanan yang kau suka,” ucapnya sambil memasang sabuk pengaman. Tanpa banyak bicara lagi, Kyu Hyun langsung memacu mobilnya.

***

Eun Soo langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa sesampainya di rumahnya. Ia lelah mengikuti Kyu Hyun masuk ke satu restoran lalu ke restoran lainnya. “Samgyeopsal, bibimbab, deokkbokki dan masih membawa pulang sekotak pizza. Kau benar-benar memerasku, Cho Kyu Hyun,” desisnya kesal. “Sepertinya aku salah ingin mentraktirmu.” Namun secercah senyuman terbentuk di bibirnya saat mengakhiri kalimatnya.

Dengan langkah terseok, Eun Soo menuju kamarnya dan segera mandi untuk melepaskan semua kelelahannya hari ini. Selesai mandi dengan menggenakan piyama, ia melangkahkan kakinya ke dapur dan mengambil sekotak susu dari dalam kulkas. Gadis itu meneguknya hingga habis lalu membuangnya ke tempat sampah yang terletak di sebelahnya. Tiga ratus mililiter susu tadi adalah makan malamnya hari ini. Ia merasa cukup kenyang melihat Kyu Hyun makan tadi.

Eun Soo masuk kembali ke kamarnya lalu mengambil gitar berwarna pink yang terletak di sebelah lemari bukunya. Gitar itu adalah hadiah ulang tahun dari Sung Min untuknya. Ia mulai memetik dawai gitar itu memainkan sebuah melodi yang tidak menentu.

Eun Soo menghela nafas, memikirkan perasaannya terhadap Sung Min. “Sudah hampir dua tahun aku menyukaimu. Oppa, tidakkah kau sadar perasaanku ini?” lirihnya. “Aku lelah kalau seperti ini terus.”

Saat pikirannya melayang jauh tiba-tiba ponselnya bergetar, tanda ada telepon masuk. Eun Soo melihat nomor yang tertera di layar ponselnya. Nomor yang tidak terdaftar dalam kontaknya namun ia tahu siapa pemiliknya. Setelah beberapa saat akhirnya ia memutuskan untuk menjawabnya. “Yeoboseyo?”

——————————————————–

Sorry for the very late update, I was so busy last few weeks due to final exam. But now I’m free! Thank you for your time for reading my story. Hope you enjoy reading the story. I’m still learning in writing, so I need critic to improve my skill.

Mind to leave a comment?

XOXO,

Sylvia ♥

Advertisements

2 thoughts on “[Chapter 3] Like Rain, Like Love

  1. Kasihan Eunsoo, Sungmin oppa sepertinya blm peka dgn perasaan cinta Eunsoo, dia hny merasa Eunsoo seperti itu krn terbiasa thdp dirinya bukan krn cinta, Kyu oppa baik dan iseng, asik banget org nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s