[Chapter 4] Like Rain, Like Love

Poster Like Rain, Like Love Chapter 4

 

Written by Sylviamnc

Kyu Hyun memasuki Café dengan senyum sumringah sambil menjinjing sekotak pizza. “Hyeong~” panggilnya riang. Ia menghampiri Sung Min yang duduk di salah satu meja lalu menyodorkan kotak pizza. “Ini untukmu, hyeong.”

Sung Min menaikkan sebelah alisnya. “Sudah turun salju dipertengahan bulan Oktober ya? Tumben sekali kau membelikanku sesuatu,” sindirnya.

Kyu Hyun terkekeh, “ah, hyeong bisa saja. Ini kuberikan pada hyeong karena aku sudah kenyang. Hyeong belum makan malam, kan?”

Sung Min mengangguk-angguk. “Kenapa wajahmu tampak bahagia sekali? Hal baik apa yang sudah terjadi?” tanyanya menyelidik.

Kyu Hyun tertawa pelan. “Aku membantu tugas Eun Soo dan dia mentraktirku sebagai tanda terima kasihnya.”

“Oh ya? Kau minta ditraktir apa?” tanya Sung Min lagi.

Samgyeopsal, bibimbab, deokkbokki dan ini,” jawab Kyu Hyun santai sambil menunjuk kotak pizza yang ia bawa.

Sung Min menganga mendengarnya. “Kau makan semua itu dan Eun Soo yang membayar semuanya?”

Kyu Hyun mengangguk dengan senyum yang tidak terlepas. Sung Min menjitak kepala Kyu Hyun cukup keras. “Ah, appeo. Waeyo, hyeong?” tanya Kyu Hyun dengan tampang polos seraya mengelus kepalanya.

“Aku tahu sifat jahilmu. Tapi kau juga harus kira-kira, Kyu. Kau tidak tahu kan, kalau dia yatim-piatu dan kakaknya harus kerja keras di negeri tetangga demi menghidupinya,” jelas Sung Min.

Senyum Kyu Hyun memudar, “begitu beratkah keadaan mereka?”

“Makanya, lain kali pilah-pilah dulu siapa yang akan kau jadikan korban kejahilanmu. Tapi terima kasih pizzanya, kebetulan aku sedang lapar,” tutur Sung Min lalu membuka kotak pizza itu. Ia mengambil sepotong pizza dan mengunyahnya.

Kyu Hyun memutar ingatannya kembali. Ia merasa dirinya sedikit keterlaluan terhadap gadis itu. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Ia berjalan menjauh lalu menghubungi nomor gadis itu.

Setelah terdengar beberapa kali nada sambung, barulah sambungan telepon itu diangkat. “Yeoboseyo?” sapa suara diseberang sana.

Mwohae?”

“Kyu Hyun-ssi? Ada masalah apa lagi?”

Kyu Hyun mengacak rambutnya lalu mendesah. “Mianhae,” ucapnya pelan.

Ne? Wae geurae?”

“Tanpa tahu keadaanmu, aku sudah minta ditraktir seperti tadi,” ungkap pria itu merasa bersalah. “Mian.”

Setelah beberapa detik diam, Eun Soo kembali bicara, “aku hanya memenuhi janjiku padamu. Aku tidak keberatan sama sekali, Kyu Hyun-ssi.” Kyu Hyun hendak bersuara namun gadis itu melanjutkannya lebih dulu. “Gwaenchanha,” ucap Eun Soo lembut.

Kyu Hyun hanya diam meresapi kata-kata gadis itu. Hatinya berdesir dan semua perasaan bersalahnya lenyap seketika begitu mendengar kata terakhir dari gadis itu. Begitu menenangkan sehingga tanpa sadar otot-otot di sekitar bibirnya tertarik dan membentuk senyuman.

“Kyu Hyun-ssi? Kau masih disana?”

Suara gadis itu menyadarkan dirinya kembali dan membuat jantungnya berdebar. “Ah, ne. Gomawo,” ucapnya cepat dan memutus sambungan telepon itu. “Ada apa denganku? Kenapa aku seperti ini?” tanyanya pada dirinya sendiri.

***

Sung Min merebahkan dirinya di atas ranjang empuknya. Ototnya terasa lebih rileks setelah seharian sibuk kuliah dan mengelola Cafénya yang kebanjiran pengunjung. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil menerawang jauh.

Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat. Adik kecilnya kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang mempunyai daya tariknya tersendiri. Eun Soo memang selalu ia jaga layaknya adiknya sendiri namun baru ia sadari juga kalau ia ingin menjaganya lebih dari sekedar itu. Ia sadari bahwa hatinya lebih ingin menjadi pendamping hidup Eun Soo dibanding hanya menjadi kakaknya.

Sung Min bangkit dari posisinya dan berjalan menuju meja belajarnya. Ia duduk dan meraih sebuah bingkai foto yang terletak di sana. Di dalam bingkai itu terdapat foto Eun Soo yang diapit olehnya dan Hee Chul.

Foto itu diambil saat Sung Min masuk SMP, kira-kira berusia 13 tahun, berarti gadis itu masih 11 tahun dan Hee Chul berusia 16 tahun. Wajah mereka terlihat polos dengan senyuman lebar menghiasinya.

Sung Min menghela nafas. Sudah lama ia menyadari perasaan lebih gadis itu terhadap dirinya. Tapi selama ini, ia berusaha menyangkal hal itu hingga akhirnya Kyu Hyun menyadarkannya bahwa dirinya juga merasakan hal yang lebih terhadap gadis itu. Ia tahu bahwa hati gadis itu sudah banyak tersakiti karena ketidak-pastiannya dan sudah seharusnya ia mengakhiri ini.

Mereka berdua memiliki perasaan yang sama, bukankah seharusnya lebih mudah? Tapi pertanyaannya sekarang, apakah ia cukup berani untuk mengubah status dirinya dari kakak menjadi pendamping hidup bagi Eun Soo?

***

Sinar matahari mengintip melalui celah-celah tirai dan mengusik Eun Soo dari tidurnya. Ia menguap sambil meregangkan tubuhnya masih dalam posisi tiduran. Gadis itu beranjak menuju jendela besar dan menyibak tirai yang menutupinya. Seketika itu juga cahaya matahari menyeruak masuk dan menerangi kamarnya. Eun Soo menikmati hangatnya sinar matahari yang meresapi kulitnya. Setelah beberapa menit, ia merapikan kasurnya lalu masuk ke kamar mandi.

Hari Sabtu ini, ia tidak ada jadwal kuliah dan berniat untuk membersihkan rumahnya. Eun Soo berjalan menuju cermin besar yang ada di kamarnya lalu mengikat rambutnya jadi satu agar lebih leluasa.

Gadis itu mulai dengan sarapan oatmeal terlebih dahulu lalu membersihkan dapurnya. Setelah dapur, ia berpindah dari satu ruang ke ruang lain yang ada di rumahnya yang berukuran 6 x 13 itu.

Begitu semuanya selesai, Eun Soo merasakan tubuhnya sangat lelah dan dipenuhi keringat. Ia merebahkan dirinya di sofa untuk beristirahat.

Saat ia sudah hampir tertidur, tiba-tiba ponselnya berdering dan membuat gadis itu terlonjak kaget. Eun Soo langsung mengangkat telepon itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya. “Yeoboseyo?” sapanya sedikit bergumam.

“Ada apa dengan suaramu? Kau baru bangun tidur?” jawab suara diseberang telepon.

Eun Soo membetulkan posisinya. “O! Ada perlu apa, Kyu Hyun-ssi?”

Kyu Hyun berdeham. “Kau sudah ada rencana makan malam?”

Eun Soo mengernyitkan dahinya. “Makan malam? Mungkin maksudmu makan siang. Belum.”

Ya! Kau sedang mengigau ya? Coba kau lihat jam berapa sekarang!”

Gadis itu mendongakkan kepalanya untuk melihat jam dinding yang ada di sana. Matanya membelalak kaget. “Jam lima?!” serunya cukup keras.

“Ya, dan itu sudah waktunya makan malam. Dasar! Aku jemput kau 30 menit lagi.” Sambungan telepon itu diputus begitu saja oleh Kyu Hyun.

Eun Soo berdecak kesal. “Selalu!” Gadis itu langsung bergerak menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian, ia keluar dengan memakai sweater berwarna cream dan skinny jeans abu-abu.

Eun Soo berjalan menuju meja riasnya dan mulai mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Setelah selesai, ia mengambil tas selempangnya memasukkan dompet, handphone dan benda-benda lainnya yang mungkin diperlukan nanti. Tidak lupa ia mengenakan mantel dan syal navy blue-nya karena suhu udara yang semakin rendah.

Saat Eun Soo keluar dari kamarnya, terdengar suara klakson mobil dari depan rumahnya. “Ne! Gidariseyo!” serunya sambil berlari ke arah rak sepatu dan memakai sneakernya. Gadis itu mengunci pintu rumahnya.

Eun Soo merasakan angin dingin menerpa wajahnya. Ia merapatkan mantelnya sambil berlari menghampiri mobil Kyu Hyun. Ia membuka pintu mobil dan mengambil tempat di sebelah kemudi dengan nafas sedikit tersengal-sengal.

Kyu Hyun memerhatikan gerak-gerik gadis itu yang terlihat lelah. ” Kau baru kembali dari planet Mars, sampai tidak tahu waktu dan terengah-engah begitu,” guraunya seraya tertawa demi membangkitkan semangat gadis itu.

Eun Soo mengatur nafasnya lalu melirik pria itu sekilas. Ia terlalu lelah untuk meladeni gurauan pria itu. “Cepatlah jalan, aku sudah lapar.”

Kyu Hyun memasang muka masam karena tidak ditanggapi sesuai harapannya. Lalu ia mencari-cari sesuatu. “Sepertinya masih ada,” gumamnya.

“Kau mencari apa lagi?” tanya Eun Soo ketus karena perutnya benar-benar terasa lapar.

Kyu Hyun membuka dashboard dan senyumnya langsung merekah. Ia mengambil sesuatu dari dalam sana dan melemparkannya kepada gadis itu. “Makanlah.”

Eun Soo kaget dengan bungkusan plastik yang tiba-tiba dilempar pria itu ke pangkuannya. “Ige mwoeyo?” Ia mengangkat bungkusan plastik itu dan membaca tulisan yang tercetak diatasnya. “Chocopie?”

Kyu Hyun mengangguk kecil sambil menancap gas, membuat mobil itu melaju. “Kau lapar, kan?” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di depannya.

Eun Soo tersenyum kecil. “Gomawo,” ujarnya seraya merobek plastik pembungkusnya. Ia memakan chocopie itu.

Kyu Hyun mengerling ke arah gadis itu. Hatinya berdesir begitu melihat seulas senyum saat gadis itu memakan chocopienya. Ia terus mengawasi gadis itu hingga Eun Soo menelan gigitan terakhir chocopienya dan selintas pikiran jahil melewati otaknya. “Kapan aku membeli chocopie itu ya?” gumam pria itu dan tetap fokus dengan jalanan di hadapannya.

Eun Soo sedikit tersentak dan langsung menatap pria itu. “Sudah lebih dari setahun aku tidak makan chocopie. Berarti sudah lebih dari setahun juga berada di dalam sana,” lanjut Kyu Hyun tanpa bersalah.

Mwo?!” seru Eun Soo kaget. Ia langsung mencari tanggal kadaluarsa pada bungkus plastik itu namun ternyata tidak tercetak disana. Gadis itu mendesah pasrah seraya mengacak rambutnya sendiri-merasa bodoh sudah kena jebakan pria itu.

Tawa Kyu Hyun meledak begitu melihat ekspresi panik dan pasrah gadis itu. “Kau percaya? Itu baru aku beli dua hari yang lalu. Lagi pula mana mungkin aku ingat kalau sudah satu tahun disana.”

Eun Soo menatap pria itu dengan tatapan membunuh. “Awas kau!” desisnya lalu mencubit lengan Kyu Hyun dengan sadis.

“A! Appeo! Appeo!” rintih Kyu Hyun kesakitan namun gadis itu tidak melepasnya. “Geumanhae. Geumanhae, Eun Soo-ssi. Jebal, geumanhae,” mohonnya dan membuat dia kehilangan kendali kemudi. Ia hampir saja menabrak trotoar.

Eun Soo langsung melepas cubitannya. “Ya! Kau mau membunuhku?”

Kyu Hyun mengelus lengan bekas cubitan gadis itu. “Itu karena kau menggangguku yang sedang menyetir. Aish, neomu appa!”

Eun Soo melipat tangan di depan dadanya. “Mianhae,” lirihnya. Kyu Hyun mengerling lagi ke arah gadis itu. Ia tersenyum kecil saat melihat wajah bersalah gadis itu.

Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Hingga akhirnya Kyu Hyun memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran. Mereka turun dari mobil itu bersamaan.

Eun Soo langsung merasakan angin dingin menerpa wajahnya lembut. Gadis itu memasukan tangannya ke saku mantelnya. “The Steak’s House,” ujarnya membaca nama restoran itu.

Kyu Hyun sudah sampai di teras restoran itu saat menyadari kalau gadis itu tidak mengikutinya. Ia menoleh dan benar saja Eun Soo masih berdiri di samping mobil. “Ya! Sampai kapan kau mau berdiri di sana?” serunya. Eun Soo berlari kecil menghampiri pria itu.

Seorang pelayan wanita yang berdiri di sisi pintu masuk langsung menyambut mereka berdua. “Oseo oseyo! Silahkan, lewat sini,” ucapnya ramah seraya membukakan pintu dan mengantarkan mereka ke sebuah meja dengan dua kursi yang terletak di bagian dalam.

Interior restoran bergaya Amerika klasik ini didominasi warna beige. Lantainya dilapisi karpet sehingga tidak menimbulkan suara saat beradu dengan alas kaki. Ditambah dengan penerangan yang temaram, membuat restoran ini nampak hangat.

Eun Soo masih sibuk memperhatikan interior restoran sampai seorang pelayan menanyakan pesanannya. “O! Tenderloin steak dan hot lemon tea,” ucapnya seraya menyerahkan buku menu ke pelayan tersebut. Setelah itu pelayan tersebut pergi dan ia kembali melihat sekelilingnya.

Kyu Hyun tersenyum tanpa mengalihkan matanya dari gadis yang duduk di hadapannya kini. “Bagaimana? Kau suka tempat ini?”

Eun Soo menatap pria itu lalu mengangguk, “desain interiornya bagus. Lain kali bawa aku ke tempat lain yang interiornya bagus.”

Kyu Hyun mengangkat sebelah alisnya sekilas lalu kembali tersenyum. “Jadi kau mengharapkan pergi bersamaku lagi?” tanyanya dengan nada menggoda.

Eun Soo dapat merasakan jantungnya berdebar cepat dan membuat ia salah tingkah. “A-ani. Bukan itu maksudku,” jawabnya sedikit tergagap. Gadis itu memegangi wajahnya yang terasa hangat.

Kyu Hyun tertawa tanpa suara melihat tingkah gadis itu yang sedikit panik. “Arasseo. Lain kali kita pergi bersama lagi.”

Eun Soo tersenyum kecil. Tiba-tiba ponsel di tasnya bergetar, ia segera mengambilnya dan melihat siapa yang menghubunginya. “Sung Min oppa?” sapanya riang.

Kyu Hyun menyipitkan matanya begitu mendengar nama itu terlontar dari mulut Eun Soo. Ia mendengus kesal dan langsung memalingkan wajahnya dari gadis itu. Hatinya terasa sedikit kesal saat mendengar gadis itu berbicara dengan riang untuk pria selain dirinya.

Eun Soo membulatkan matanya. “Ne?!” serunya kaget lalu segera menutup mulutnya. “Ah, mianhae, oppa. Aku benar-benar tidak ingat janji itu. Jeongmal mianhaeyo,” ucapnya penuh penyesalan.

Kyu Hyun risih mendengar perbincangan telepon itu. Ia mengambil ponsel dari sakunya dan mulai memainkan game yang ada di sana untuk mengalihkan perhatiannya.

“Aku? Aku sedang bersama Kyu Hyun di ‘The Steak’s House’. Oppa tahu dimana?” tutur Eun Soo melirik ke arah Kyu Hyun. Namun pria itu tidak melihatnya karena sibuk memainkan ponselnya. “Bagaimana kalau oppa bergabung dengan kami?” tawar Eun Soo kemudian.

Kyu Hyun langsung menoleh saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan gadis itu. “Mworago?” spontannya namun tidak digubris Eun Soo.

Eun Soo mendesah. “Baiklah kalau begitu. Mianhaeyo, oppa,” lirihnya. “Aku janji lain kali tidak akan pernah lupa lagi.” Gadis itu mengangkat tangan dan jarinya membentuk V.

Kyu Hyun mencibir kelakuan gadis itu. “Memangnya dia bisa melihat dari seberang telepon?” ocehnya dalam hati.

Ne, annyeong,” ujar Eun Soo lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Ia menghela nafas panjang. “Bagaimana mungkin aku melupakan janji dengan oppa? Babo! Babo!” rutuknya sambil memukuli kepalanya sendiri.

“Kau memang bodoh,” lontar Kyu Hyun lalu terkekeh pelan.

Eun Soo menatap pria itu tajam. Setelah tubuhnya lelah, sekarang hatinya juga ikutan lelah. Lalu seorang pelayan wanita datang untuk menghidangkan pesanan mereka. “Silahkan,” ucapnya seraya meninggalkan meja mereka.

Gamsahamnida.” Eun Soo menatap makanan yang terhidang di hadapannya tanpa minat. Rasa laparnya tadi tiba-tiba menguap entah kemana. Ia menghela nafas sebelum menuang saus steak ke atas dagingnya. Ia memotongnya lalu memasukkan potongan daging itu ke mulutnya. “Masitta,” ujarnya seraya tersenyum simpul dan mulai memakannya lagi.

Kyu Hyun ikut tersenyum begitu melihat kembali senyum di bibir gadis itu. “Yeppeo,” gumamnya tanpa sadar.

Ne?” Eun Soo mendongak karena mendengar suara pria itu. “Apa yang kau katakan?”

Kyu Hyun membulatkan matanya lalu menggeleng. “Ani.” Ia kembali memotong daging steaknya dan melahapnya.

Eun Soo menatap pria itu sebentar lalu mengangkat bahunya. Ia melanjutkan menikmati daging steaknya.

Mwo?! Apa yang tadi kau pikirkan, Cho Kyu Hyun? Hal gila apa yang sudah kau katakan?” rutuk Kyu Hyun dalam hati seraya memotong-motong daging di hadapannya dengan bringas.

Eun Soo menyenggol tangan Kyu Hyun. “Ya! Kau kenapa?”

Kyu Hyun menatap gadis di hadapannya yang sedang memerhatikannya dengan khawatir. “A-ani. Makanlah,” ucapnya salah tingkah.

Eun Soo tidak puas terhadap jawaban pria itu namun ia memilih untuk tidak mempedulikannya lagi dan melanjutkan menyantap steaknya. Perasaan lelahnya sedikit terlupakan karena steak lezat yang ia santap.

——————————————————–

Hi, thank you for your time for reading my story. Hope you enjoy reading the story. I’m still learning in writing, so I need critic to improve my skill.

Mind to leave a comment?

XOXO,

Sylvia ♥

Advertisements

2 thoughts on “[Chapter 4] Like Rain, Like Love

  1. Tuh kan Sungmin oppa bs terlambat, nanti kalau Kyu oppa yg berani duluan u mengungkapkan perasaannya pd Eun soo bgmn dan Kyu oppa sepertinya pintar mencuri hati Eunsoo.. Ayo sungmin oppa berani u mengungkapkan perasaannya dan ia sendiri jg th kalau Eunsoo jg mempunyai rasa suka pd dirinya

    1. Ayoo, kira2 siapa yang bisa mendapatkan hati Eun Soo pada akhirnya?
      Sung Min, cowo lembut yang selalu ada di hidup Eun Soo atau Kyu Hyun, cowo iseng tapi ngangenin yang baru dikenalnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s