[Chapter 5] Like Rain, Like Love

Poster Like Rain, Like Love Chapter 5


Written by Sylviamnc

Waktu sudah menunjukan pukul 17.20 saat Sung Min menyelesaikan persiapan untuk makan malamnya bersama Eun Soo. “Ah, bunga!” ucapnya seraya menjentikan jari. Pria itu segera keluar dan mengendarai mobilnya menuju ke toko bunga terdekat. Ia membeli sebuket bunga lily berwarna putih dan pink.

Dengan mengenakan kemeja berwarna pink yang dilapis dengan sweater berwarna ivory dan celana berwarna senada, Sung Min duduk manis sambil memperhatikan meja makan yang sudah ia tata sedemikian rupa.

Sung Min meraih buket bunga yang tadi ia beli. Ia tersenyum sendiri saat membayangkan reaksi Eun Soo nanti saat menerima buket bunga favoritnya itu. Terlebih lagi malam ini, ia sudah memantapkan hati untuk mengubah statusnya sesuai dengan yang diharapkan mereka berdua.

Sung Min melirik jam tangannya. “Sudah jam enam? Kenapa belum datang? Ah, mungkin sebentar lagi.” Sung Min menunggu beberapa menit dan kembali melirik jam tangannya. “Jam enam lewat lima belas menit? Tidak biasanya…”

Akhirnya Sung Min memutuskan untuk menelepon gadis itu. Ia mengambil i-phonenya dan langsung memencet nomor 5 yang langsung terhubung ke nomor gadis itu. “Yeoboseyo? Eun Soo-ya?”

“Sung Min oppa?” sapa Eun Soo dari seberang telepon.

Sung Min tersenyum begitu mendengar suara gadis itu. “Kau sedang apa? Kenapa tidak datang kesini?”

Eum?” gumam gadis itu dengan nada bingung.

“Bukankah kita akan makan malam bersama di rumahku?”

Ne?!” pekik gadis itu. “Ah, mianhae, oppa. Aku benar-benar tidak ingat janji itu. Jeongmal mianhaeyo,” ucapnya terdengar penuh penyesalan.

Hati Sung Min mencelos mendengarnya. “Jigeum neo eodiya?” tanyanya lemah.

“Aku? Aku sedang bersama Kyu Hyun di ‘The Steak’s House’. Oppa tahu dimana?”

Sung Min menaikan sebelah alisnya. “Kyu Hyun?” tanyanya dalam hati.

“Bagaimana kalau oppa bergabung dengan kami?” tawar Eun Soo kemudian.

Terdengar suara Kyu Hyun dibelakang sana. “Mworago?”

Sung Min mendesah pelan. “Dwaesseo, aku makan di rumah saja.”

Terdengar suara mendesah gadis itu. “Baiklah kalau begitu. Mianhaeyo, oppa,” lirihnya.

Sung Min tidak ingin membuat gadis itu merasa bersalah berkepanjangan karena ini, tapi ia juga tidak bisa menutupi kekecewaan hatinya sendiri. “Gwaenchanha,” ucapnya dengan berat hati.

“Aku janji lain kali tidak akan pernah lupa lagi,” lanjut gadis itu lagi.

Ara.”

Ne, annyeong,” pamit Eun Soo.

Annyeong.” Sung Min memutuskan sambungan telepon itu lalu melempar i-phonenya sembarangan ke atas meja. Ia menatap kosong meja makan yang sudah rapi itu.

Usahanya sejak siang untuk menyiapkan masakan spesial untuk gadis itu, sia-sia sudah. Kini gadis itu sedang makan bersama Kyu Hyun di tempat lain sedangkan ia sendirian disini.

“Lupa?” Sung Min menghela nafas panjang lalu mulai menyumpitkan sayur dari piringnya ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya sebentar lalu menelannya dengan berat hati.

“Bahkan kau sudah melupakan janji kita sebelum aku sempat melanjutkannya.” Sung Min tersenyum pahit dan mulai melahap makanannya.

***

Jalanan kota Seoul malam ini cukup padat. Berhubung hari ini adalah malam minggu, banyak orang yang menghabiskan waktu di luar rumah bersama dengan orang-orang terkasih.

Kyu Hyun menatap malas kendaraan-kendaraan lain yang memadati jalanan di hadapannya. Kalau bukan ingin mengantar Eun Soo, ia pasti tidak akan melewati jalan ini. Tapi jalan menuju rumah Eun Soo hanya ini saja, jadi terpaksa ia harus bersabar.

Kyu Hyun menekan klakson mobilnya dengan tidak sabar, namun sia-sia saja. Kendaraan di depannya tetap diam. Ia mengerling ke arah gadis di sampingnya. Entah sejak kapan gadis itu sudah tertidur.

Tanpa komando bibir Kyu Hyun membentuk seulas senyum saat melihat wajah damai Eun Soo yang tengah terlelap. Ia memperhatikan tiap lekuk wajah gadis itu dan merekamnya baik-baik dalam otaknya.

Kyu Hyun menjulurkan tangannya hendak mengelus rambut gadis itu. Tiba-tiba suara klakson dari mobil belakang membuatnya tersentak. Jantungnya seakan hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Ia merasa seperti maling yang ditangkap basah sedang mencuri sesuatu. Tanpa ba bi bu lagi, pria itu langsung menancap gas.

Tiga puluh menit kemudian, mobil Kyu Hyun sampai di depan rumah Eun Soo. Ia melepaskan seatbeltnya lalu mengguncang pelan bahu gadis itu. “Eun Soo,” panggilnya lembut.

Eun Soo menggeliat pelan namun masih belum terjaga dari tidurnya.

“Eun Soo.” Kyu Hyun mengguncang bahu gadis itu lagi.

Eun Soo menyipitkan matanya melihat sekitarnya. Ia menguap kecil seraya membuka matanya perlahan. Gadis itu menoleh dan melihat Kyu Hyun yang sedang tersenyum padanya. Ia terkesiap. “Mian. Aku tertidur di mobilmu,” ucapnya kikuk seraya merapikan rambutnya.

Kyu Hyun terkekeh kecil melihat gadis itu salah tingkah. “Hapus dahulu air liurmu itu.”

Eun Soo membulatkan matanya. “Air liur? Bagaimana mungkin aku menunjukan hal memalukan seperti itu di depannya?” batinnya. Ia langsung mengelap bibirnya dengan punggung tangannya, namun tidak ada tanda-tanda bekas air di sana. Ia menatap pria itu dengan tatapan tidak mengerti.

Kyu Hyun tertawa lepas begitu melihat wajah polos gadis itu. Ia senang berhasil mengerjainya.

Eun Soo menekuk wajahnya kesal. Ia melepas seatbeltnya. “Gamsahamnida, Cho Kyu Hyun-ssi,” desisnya ketus seraya keluar dari mobil itu dan menutup pintu mobil itu keras. Ia melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju rumahnya.

Kyu Hyun menurunkan jendela mobilnya. “Selamat malam, Kim Eun Soo!” serunya. Ia terkekeh pelan dan langsung memacu mobilnya cepat meninggalkan gadis itu di sana. Senyum tak kuasa menghiasi wajahnya sepanjang malam itu.

***

Eun Soo meneguk susu tawar hangatnya perlahan lalu kembali mencoret-coret kertas di hadapannya. Sesekali ia menggosokan karet penghapusnya. Tiba-tiba perhatiannya teralih pada sebuah piring berisi biskuit yang ditaruh di hadapannya. Ia mendongak dan mendapati wajah Sung Min tersenyum padanya. “O, oppa!”

“Segelas susu tawar akan lebih nikmat bila dipadukan dengan almond cookies ini,” ucap Sung Min seraya mendorong piring yang ia letakkan tadi.

Eun Soo melihat piring itu sekilas lalu tersenyum pada pria di hadapannya itu. “Gomawo, oppa.” Ia mengambil sepotong biskuit dan mengunyahnya perlahan.

“Kali ini ditambah dengan bubuk kayu manis, bagaimana?” tanya Sung Min seraya menjejalkan sepotong biskuit ke mulutnya.

Eun Soo mengangguk pasti. “Jauh lebih baik dibanding yang biasanya,” jawabnya sambil mengambil biskuit itu lagi.

Sung Min mengelus lembut rambut gadis itu. Ia memandangi wajah gadis itu dengan senyum yang mengembang.

Eun Soo memegangi wajahnya yang terasa memanas karena dipandangi lekat seperti itu. “W-wae geuraeyo, oppa?” tanyanya sedikit tersipu ditambah degupan jantungnya yang mulai tak menentu.

Sung Min terkekeh pelan melihat semburat kemerahan di pipi gadis itu. “Mau berjanji satu hal padaku?”

Ne?” Tergambar tanda tanya besar di wajah Eun Soo.

Sung Min tersenyum pernuh arti. Baru saja Sung Min hendak membuka suara kembali, namun suara ringtone i-phone mengusiknya. “Jamkkanman.” Ia menjawab sambungan telepon itu. “Yeoboseyo? Abeoji?”

Eun Soo meneguk kembali susunya dengan sejuta perkiraan maksud kata-kata pria itu tadi. Tapi tetap saja ia tidak menemukan jawabannya.

“Ah, ne, abeoji. Arasseoyo,” ucap Sung Min menyudahi percakapannya. Ia kembali menatap gadis di hadapannya. “Aku harus ke perusahaan abeoji sekarang. Lain kali kita lanjutkan perbincangan yang tertunda ini. Nikmati saja waktumu. Bye,” pamitnya.

Eun Soo mengangguk kecil walau ada sedikit rasa penasaran yang tertinggal di benaknya. “Annyeong, oppa. Hati-hati di jalan.”

Sung Min melambaikan tangannya seraya melenggang keluar dari Cafénya dan langsung mengemudikan mobilnya menjauh.

Senyum masih melekat di wajah Eun Soo sementara ia kembali menyibukkan diri dengan kertas gambarnya. Entah berapa lama waktu yang ia habiskan hingga ia menyelesaikan desainnya. Ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.

Tiba-tiba ringtone ponselnya berdering. Ia melihat caller ID yang tertampang di layar ponselnya sebelum mengangkat telepon itu. “Yeoboseyo? Kyu Hyun-ssi?”

“Kau sedang dimana? Kampus?” tanya Kyu Hyun langsung.

Eun Soo memicingkan matanya. “Aku di Cafénya Sung Min oppa. Ada keperluan apa kau bertanya hal ini?”

“Tunggu disana. Aku akan sampai dalam sepuluh menit,” ujar Kyu Hyun dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.

Eun Soo berdecak kesal, “pemaksa sekali!” sungutnya.

Kyu Hyun memasuki Café itu dan langsung mengambil tempat di hadapan gadis itu. “Hi,” sapanya seraya mengambil sepotong biskuit yang ada. “Wah, lebih enak dari yang biasanya, menu baru?” komentarnya.

“Ada apa mencariku?” tanya Eun Soo malas.

“Sepertinya, setiap hari kau pasti ke Café ini. Kenapa kau suka sekali berada di sini?” tanya Kyu Hyun tanpa menggubris pertanyaan gadis itu.

Eun Soo mendengus kesal tapi akhirnya ia menjawab juga, “berada di sini membuatku merasa seperti berada di rumahku yang dulu.”

Kyu Hyun terkekeh kecil melihat gadis itu terpaksa menjawabnya. “Dulu? Memangnya sekarang kenapa?” balasnya dengan nada jahil.

Eun Soo sedikit terhenyak mendengar tanggapan pria itu. Sebenarnya ini bukanlah topik yang ingin ia angkat karena akan membuat mood-nya turun. “Sekarang sudah tidak ada lagi aroma masakan yang menyambut saat aku pulang ke rumah,” sahutnya lemah.

Kyu Hyun melihat perubahan ekspresi gadis itu menjadi sedikit murung. “Ah, ya! Aku baru ingat. Aku mau mengajakmu ke tempat yang ku janjikan. Kaja!” ucapnya mengalihkan topik pembicaraan sensitif bagi gadis itu.

Eun Soo menautkan alisnya. “Janji? Janji apa?”

Kyu Hyun memasang tampang sebal. “Aigo, kau lupa? Kenapa kau selalu lupa dengan janji yang dibuat orang lain? Waktu itu Sung Min hyeong, sekarang aku, besok siapa lagi?” cibirnya. “Kau kan pernah minta untuk diajak ke tempat yang memiliki interior yang bagus, dan sekarang aku akan mengajakmu. Kaja!” Ia menarik paksa lengan gadis itu.

“Ya! Cho Kyu Hyun!” seru Eun Soo tapi ia langsung mendekap mulutnya sendiri saat menyadari beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Ia merelakan dirinya ditarik pria itu sampai ke mobilnya.

Kyu Hyun mengemudikan mobilnya memasuki sebuah kawasan perumahan elit di pinggir kota Seoul. Ia memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah berarsitektur Amerika modern.

Eun Soo menatap rumah di hadapannya dengan tatapan kagum. Tidak pernah sebelumnya ia melihat rumah seperti ini di Korea. “Ini villa?”

Kyu Hyun terkekeh dengan pertanyaan gadis itu yang baginya terdengar sangat polos. “Kau suka bergurau, Eun Soo-ssi.” Jawaban pria itu menambah kebingungan Eun Soo. “Ini rumahku,” lanjut Kyu Hyun.

Eun Soo membulatkan matanya begitu mendengar kalimat terakhir pria itu. “Kenapa kita ke sini?”

“Sudah ku katakan sebelumnya, ini janjiku. Tenang saja, tidak ada siapa-siapa-kecuali para pelayan,” ujar pria itu lalu melangkahkan kakinya ke arah rumahnya.

Seorang pelayan laki-laki langsung membukakan pintu untuk mereka. “Anda sudah pulang, tuan muda,” sapanya. “Selamat datang, nona.” Ia membungkuk hormat.

Eun Soo membalasnya canggung. Begitu memasuki rumah itu, aroma lavender yang menenangkan langsung memenuhi penciuman gadis itu. Ia dapat merasakan rahang bawahnya turun saat melihat pelayan-pelayan yang berlalu lalang dan menyapa Kyu Hyun setiap kali melewatinya. Persis di drama yang sering ia tonton, namun kali ini ia melihatnya langsung.

“Tutup mulutmu kalau tidak ingin ada lalat yang bersarang di dalamnya,” gurau Kyu Hyun tanpa menoleh.

Eun Soo langsung menutup mulut menggunakan tangannya sendiri sambil tetap memperhatikan ruang tengah yang mereka lewati. Kyu Hyun tiba-tiba berhenti dan membuat Eun Soo menabraknya. “O!” pekik gadis itu kaget. “Kenapa tiba-tiba berhenti?” ocehnya.

Kyu Hyun berbalik dengan senyuman lebar di wajahnya. “Welcome.”

***

Kyu Hyun menggigit cup cake-nya sambil memerhatikan gerak-gerik Eun Soo. Gadis itu berjalan mondar-mandir memperhatikan setiap detail yang ada di dapur rumahnya – tempat terakhir yang mereka singgahi. “Ya! Kau tidak lelah seperti itu terus menerus? Aku saja yang melihatmu sudah lelah.”

Eun Soo menoleh ke arah pria itu dengan senyum yang merekah. “Cantik sekali rumahmu, Kyu,” kagumnya seraya mengacungkan kedua jempolnya.

Kyu Hyun menaikkan sebelah alisnya. “Kyu? Kau memanggilku ‘Kyu’?” tanyanya memastikan dengan senyum sumringah.

N-ne?” ucap Eun Soo tergagap. Ia baru mencerna kembali kalimatnya tadi. “Ah! Mian.”

“Kenapa harus minta maaf?” Kyu Hyun tertawa renyah. Ia terkekeh geli sendiri.

Eun Soo menyisir rambutnya dengan jari – merasa canggung sendiri. “Rumahmu terlalu besar untuk keluargamu yang hanya tiga orang,” tuturnya mengalihkan topik pembicaraan.

Kyu Hyun mengangguk kecil lalu memainkan cup cake di tangannya. “Walau rumah ini ‘cantik’, namun percuma kalau tidak ada kehangatan di dalamnya.”

Eun Soo menatap dalam pria itu. “Orang tuamu jarang ada di rumah ya?”

Kyu Hyun mengangguk lagi masih tidak membalas tatapan gadis itu. “Mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya. Mirip seperti orang tuanya Sung Min hyeong.”

Eun Soo tersenyum hambar. “Setidaknya orang tua kalian masih ada. Walau jarang, tapi kalian masih dapat bertatap muka, berbincang, tertawa…” Ia menghentikan kalimatnya karena matanya mulai terasa panas.

Kyu Hyun menatap iba gadis itu. “Kau masih punya seorang oppa, kan?”

Eun Soo mengangguk lemah seraya memaksakan senyum. “Aku berharap lebih darinya, tapi aku tidak bisa memaksanya lebih dari ini. Dia sudah berjuang demi aku…” katanya menggantung lagi karena matanya benar-benar terasa panas sekarang.

“Kau kesepian?” spontan Kyu Hyun.

Eun Soo menatap nanar pria itu lalu setitik air mata mengalir dari sudut matanya. Ia langsung memunggungi Kyu Hyun. Ia mengipas-ngipas matanya namun air matanya tetap meleleh.

Kyu Hyun mengusap tengkuknya perlahan memperhatikan gadis itu. Ia menjadi serba salah, tidak tahu apa yang harus dilakukan. “Eun Soo-ya,” panggilnya kemudian.

Eun Soo menghapus kasar air matanya. “Maaf, aku membuat suasana jadi tidak enak seperti ini.”

Kyu Hyun berpikir sejenak hingga akhirnya sesuatu terlintas di otaknya. “Mau makan es-krim?” tawarnya berusaha mencairkan suasana.

Eun Soo langsung menoleh dan terkekeh kecil. “Aku seperti anak kecil saja, diberi es-krim agar berhenti menangis. Tapi, bukan ide yang buruk juga.”

Kyu Hyun tersenyum simpul. “Memangnya kau sudah besar?” ejeknya seraya menaruh se-cup es-krim ukuran 1 liter di hadapan gadis itu lalu mengambil sendok dan mangkuk.

Mwo?” Eun Soo memajukan bibirnya. “Memangnya kau pikir, kau sudah cukup dewasa untuk mengatakan aku ini anak kecil?” sindirnya.

“Maksudmu?” Kyu Hyun mengetuk-ngetukan sendok pada cup es-krim itu.

Eun Soo tersenyum kecil lalu melongok ke dalam cup es-krim itu dan senyumnya langsung memudar.

Kyu Hyun menaikkan sebelah alisnya. Ia melihat wajah gadis itu dan es-krim itu bergantian. “Kenapa?”

Eun Soo menatap Kyu Hyun dengan pandangan sedikit ragu – takut membuatnya tersinggung. “Aku tidak suka es-krim coklat.”

Kyu Hyun menatap Eun Soo dengan pandangan tidak mengerti. “Kenapa? Bukannya rata-rata semua orang lebih memilih rasa coklat dibanding rasa lain yang ada.”

Eun Soo menggeleng. “Tidak bagiku. Aku selalu menjadikan rasa coklat sebagai pilihan terakhir.”

“Kenapa? Apa yang salah dengan rasa coklat?”

Eun Soo mengendikkan bahunya. “Apakah semua hal perlu alasan? Tidak suka ya, tidak suka,” selorohnya.

Kyu Hyun menggelengkan kepalanya mendengar jawaban gadis itu. “Jadi kau tidak mau makan ini?” Eun Soo memutar matanya, tidak tahu harus menjawab apa. “Seharusnya kau makan saja apa yang sudah diberikan orang lain,” gerutu Kyu Hyun lalu menaruh kembali cup es-krim tadi ke dalam freezernya. “Baiklah, kalau begitu kita ke Baskin Robin saja. Ayo, ayo!” ajaknya semangat.

Eun Soo tersenyum geli melihat ekspresi pria dihadapannya itu yang terlalu bersemangat untuk pergi membeli es krim. “Sudah lama aku tidak ke sana.”

——————————————————–

Hi, thank you for your time for reading my story. This chapter is a bit boring, isn’t it? or maybe so boring? Sorry, but I hope you enjoy reading the story because it’s needed to complete the whole story.  I’m still learning in writing, so I need critic to improve my skill.

Mind to leave a comment?

XOXO,

Sylvia ♥

Advertisements

2 thoughts on “[Chapter 5] Like Rain, Like Love

  1. Eunsoo cheerful and moody, sepertinya Kyu oppa cukup memahaminya.. Yah Eunsoo melupakan janjinya u makan malam bersama Sungmin oppa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s