[Oneshot] Santa Claus

Poster Santa Claus

Written by Sylviamnc

This FF has been previously published at superjuniorff2010.wordpress.com on January 27, 2014.

Seperti biasa Hae Won menyantap sarapan sebelum ia berangkat ke sekolah. Tapi hari ini berbeda dari biasanya karena hari ini adalah hari pertama ia menjadi murid SMA. Perasaan senang bercampur cemas membuat hatinya berdebar semenjak ia terjaga dari tidurnya tadi pagi. Hae Won melahap dengan cepat nasi gorengnya dan membuatnya tersedak beberapa kali.

“Makanlah pelan-pelan, tidak akan ada yang mengambil sarapanmu, Hae,” gurau mamanya sambil membantu menepuk punggung anaknya.

Hae Won hanya tersenyum simpul menanggapinya. Ia segera menyelesaikan sarapannya dan langsung meraih tas yang ada di sebelahnya. “Eomma, Hae Won berangkat dulu.”

Sesampainya di sekolah, Hae Won langsung mencari kelasnya dan tidak sulit menemukannya. Saat sampai di kelasnya, ia mengambil tempat kosong di dekat jendela. Gadis itu memperhatikan keadaan kelasnya yang ramai namun tidak ada satupun yang dikenalnya. Inilah hal yang dicemaskannya sejak pagi tadi.

Hae Won sulit berteman karena sifatnya yang pendiam. Waktu duduk di bangku SD, ia tidak punya teman dekat dan selalu kesepian. Barulah saat SMP dia memiliki seorang sahabat, Mi Jung, itu pun karena Mi Jung yang mendekatinya. Namun Mi Jung tidak bisa masuk ke SMA yang sama dengan Hae Won karena Mi Jung pindah ke Seoul akibat ayahnya dipindah tugaskan kesana.

Dan masa SMA yang harusnya jadi masa paling menyenangkan, harus dilewati sendiri tanpa seorang sahabat yang mendukung. Itulah ketakutan Hae Won dan sepertinya akan menjadi nyata.

Hae Won membenamkan wajah pada kedua tangannya, pasrah akan kehidupan SMAnya yang akan menjadi mimpi buruk.

###

“Baiklah, untuk satu semester ini kalian harus duduk seperti ini. Kalian mengerti?” Tanya Go seonsaengnim, wali kelas X-A – kelas Hae Won – sekaligus guru bidang studi matematika. “Neseonsaengnim!” seru semua murid serentak dan Go seonsaengnim pun keluar dari kelas. Seketika itu juga, suasana kelas menjadi ramai.

Hae Won menghela nafas, “mungkin aku harus mencoba berteman,” batinnya dalam hati. “Annyeong,” sapa seorang laki-laki yang duduk satu meja dengan Hae Won.

Hae Won tersadar dari pikirannya. “O, annyeong,” balasnya kaku.

“Song Hae Won?” Hae Won mengangguk. “Lee Dong Hae,” lanjut laki-laki itu ramah. Hae Won mengangguk lagi. “Dari tadi ditanya cuma dijawab dengan anggukkan. Suaramu mahal, ya?” gurau Dong Hae sambil tertawa renyah.

Hae Won tersenyum karena malu.

“Hae!” panggil seseorang tiba-tiba.

Ne?” jawab Dong Hae dan Hae Won serempak seraya menoleh ke asal suara.

Laki-laki yang tadi memanggil tersenyum geli. “Ehem, maksudnya Dong Hae.”

Hae Won langsung menundukkan wajahnya yang terasa panas. Ia merasa malu karena ternyata bukan dia yang dipanggil.

Dong Hae tersenyum geli tapi tidak mengejek saat memperhatikan gerak-gerik Hae Won. “Ada apa, Hyuk?” Ia segera beranjak dari tempat duduknya.

###

Begitulah perkenalan singkat antara Hae Won dengan teman semejanya, Dong Hae. Dari perkenalan singkat itu pula membuat mereka menjadi berteman akrab. Setidaknya apa yang Hae Won takutkan sudah teratasi dengan kehadiran Dong Hae.

Dari yang Hae Won tangkap, Dong Hae adalah seorang pria yang suka bercerita dan menjahili temannya, namun juga menghargainya. Dong Hae tidak pernah melakukan hal yang merendahkan orang lain, atau membuat orang lain malu di depan umum. Dong Hae suka sekali membuat Hae Won kesal dengan keisengannya, wajah kesal gadis itu menjadi hiburan tersendiri bagi pria itu.

Hae Won jadi lebih sering tertawa dan lebih terbuka. Entah mengapa kepada Dong Hae, ia bisa dengan gamblang membeberkan hal-hal yang sebenarnya ia ingin simpan untuk dirinya sendiri, mengalir begitu saja tanpa ia sadari. Bahkan hal-hal yang tidak ia ceritakan kepada Mi Jung, sahabat perempuannya waktu SMP. Begitu pun dengan Dong Hae, pria itu banyak bercerita tentang keluarganya dan pacarnya, Sun Hee anak kelas X-C.

Ada sesuatu yang spesial dari diri Dong Hae yang membuat Hae Won mudah akrab dengan pria itu. Sesuatu yang membuatnya nyaman berada di dekatnya. Sesuatu yang membuat Dong Hae semakin menarik di matanya.

###

Sekarang sedang berlangsung ulangan matematika di kelas Hae Won. Go seonsaengnimmenjaga dengan ketat sehingga keadaan kelas menjadi hening, semua serius dengan kertas soal dihadapannya masing-masing. Setelah 30 menit mengitari baris demi baris meja, akhirnya Go seonsaengnim duduk di tahtanya. Sepertinya kakinya cukup lelah karena terus berjalan sejak tadi, ia memijat betisnya perlahan.

Dong Hae memanfaatkan kesempatan yang ada, ia segera mengambil kalkulator yang memang sudah disiapkan di laci mejanya. Ia menggunakannya di balik punggung Chae Rin, yang duduk didepannya dengan santai.

Hae Won hanya memperhatikan gerak-gerik teman sebelahnya ini tanpa komentar lalu kembali mengerjakan soal.

“Mau pinjam kalkulatornya?” tawar Dong Hae. Hae Won menggeleng pelan. “Yakin?”

Hae Won mengangguk pasti lalu tersenyum memastikan. “Gomawo.”

Dong Hae kembali sibuk dengan kalkulatornya. Sepuluh menit kemudian, ia selesai mengerjakan semua soal dan mengumpulkannya.

Go seonsaengnim terlihat takjub karena Dong Hae lah orang pertama yang mengumpulkan kertasnya. Semua orang yang ada didalam kelas – kecuali Hae Won – menatapnya tak percaya dapat menyelesaikan soal secepat itu. “Kamu yakin tidak mau memeriksa pekerjaanmu lagi? Masih ada waktu 25 menit.”

Ne, seonsaengnim,” jawab Dong Hae mantap.

“Baiklah, kamu boleh istirahat lebih dahulu,” ucap Go seonsaengnim dengan berat hati.

Gamsahamnida, seonsaengnim.” Dong Hae melenggang pergi keluar kelas dan keadaan kelas kembali serius.

Waktu ulangan matematika pun berakhir, setelah semua murid mengumpulkan kertas ulangannya, Go seonsaengnim keluar dari kelas. Beberapa siswa ada yang mengekor di belakangnya, dan ada pula yang langsung bergerombol mendiskusikan sesuatu.

Hae Won membereskan barang-barangnya yang berserakan diatas meja.

“Bagaimana ulangannya?” tanya seseorang tiba-tiba dan membuat Hae Won langsung menoleh.

“O, Dong Hae!” Hae Won menganggukan kepala tanda mengiyakan lalu kembali merapikan barang-barangnya.

Dong Hae duduk dikursinya sambil meminum teh kotak yang ia bawa dari kantin. Tidak ada yang mengeluarkan suara, hanya terdengar suara hirupan teh Dong Hae.

Tiba-tiba. “Hae!” Merasa namanya dipanggil, Dong Hae dan Hae Won menengok keasal suara.

Eun Hyuk tersenyum kecil. “Sorry, kebiasaan. Maksudnya Dong Hae,” ralat Eun Hyuk sambil mengatupkan tangan.

Hae Won menutup mukanya yang terasa panas karena malu. Ini bukan yang pertama ataupun yang kedua, tapi ia sudah sering salah mengira.

“Ini, jadwal eskul futsal.” Eun Hyuk menyerahkan selembar kertas.

Dong Hae menerima dan membacanya. “Thanks.

“Oke.” Eun Hyuk mengancungkan jempol lalu berlari keluar kelas.

Dong Hae tertawa kecil. “Babo,” ucapnya tanpa menoleh.

Hae Won menatap kesal Dong Hae masih dengan wajahnya yang memerah karena malu. “Lagian dia panggilnya ‘Hae’, bisa Dong Hae atau Hae Won. Bukan salahku juga.”

“Lagipula sudah sering seperti ini dan yang dimaksud selalu Dong Hae. Mana pernah Hae Won yang dipanggil.” Dong Hae masih melanjutkan tawanya.

Hae Won tersenyum getir. “Benar juga.” Kata-kata Dong Hae benar-benar tepat sasaran, memang benar tidak ada yang pernah memanggil namanya. Perasaan sedih langsung melingkupi dirinya. Selama ini Hae Won selau berusaha kuat namun sebenarnya ia kesepian.

Dong Hae hanya berbicara padanya bila mereka di kelas saja. Selebihnya, Dong Hae lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman laki-lakinya. Hae Won sebenarnya ingin berteman dengan perempuan lainnya namun mereka sudah berkelompok sendiri-sendiri. Ia selalu berusaha namun mereka tidak pernah memberi kesempatan.

Dong Hae menyadari kata-katanya barusan telah menyakiti hati Hae Won. Ia merasa tidak enak hati melihat wajah gadis itu berubah murung. Ia berpikir keras untuk mengubah suasana canggung yang tiba-tiba meliputi mereka dan dengan cepat ia mendapatkan ide. Ia menyerang daerah leher Hae Won yang merupakan daerah sensitifnya.

Ya, geli! Hajima!” pinta Hae Won sambil menghalangi tangan Dong Hae yang berusaha menggelitiknya.

Dong Hae tersenyum jahil dan terus menyerangnya. Hae Won tak kuasa menahan geli dan membuat ia mulai tertawa. Dong Hae meneruskan usahanya untuk merubah suasana hati Hae Won yang sepertinya akan berhasil.

“Hahaha. Hentikan, Hae! Geumanhae, geumanhae!” Hae Won tersenyum sambil berusaha menjitak kepala Dong Hae tapi berhasil ditepis.

Dong Hae tertawa senang. “Rambutku mahal. Itu aset berharga.”

“Dasar,” sungut Hae Won namun tetap tersenyum. Tiba-tiba saja perasaan sedihnya tadi hilang begitu saja.

“Bagaimana kalau aku buatkan nama panggilan untukmu, agar tidak ada salah paham lagi.” Dong Hae berpikir sejenak. “Karena aku suka hari natal, Santa. Iya, Santa Claus!”

Santa Claus? Aku bukan kakek-kakek, Dong Hae! Lagipula itu jauh dari namaku.” Hae Won menolak ide Dong Hae mentah-mentah.

“Ne? Nama panggilan kan tidak harus mirip dengan nama asli. Memangnya kamu tidak suka sama Santa Claus? Dia orang baik yang suka membagi-bagikan hadiah di malam natal.” Dong Hae terlihat bersemangat mempertahankan idenya.

“Tapi tetap saja tidak!”

Yoreobun!” teriak Dong Hae dan berhasil mencuri perhatian seluruh murid yang ada dikelas. Hanya ada beberapa orang murid karena yang lain masih beristirahat diluar kelas. Dong Hae melanjutkan, “mulai sekarang nama panggilan Hae Won adalah Santa Claus.”

“O, harabeoji!” balas beberapa anak laki-laki lalu diikuti gelak tawa.

“Sudahlah, tidak perlu dimasukkan ke hati, Hae Won-a. Dong Hae memang suka seenaknya sendiri,” bela Seung Hee.

Hae Won tersenyum senang karena baru kali ini ada teman sekelasnya – selain Dong Hae – yang berbicara padanya.

“Dong Hae, jangan suka mempermainkan anak baru!” lanjutnya mengomeli Dong Hae, namun Dong Hae hanya tersenyum-senyum kecil.

“Hae Won-a, lebih baik kamu bergabung dengan kami daripada bergaul sama Dong Hae, cuma makan hati,” ucap Seo Yeon menarik tangan Hae Won, menuju tempat Seung Hee.

Hae Won hanya bisa pasrah, sebenarnya ia senang tapi tidak tahu harus bersikap seperti apa. “Hae Won-a, kau pasti lelah satu semester harus duduk bersama Dong Hae. Sabar, sabar saja menghadapinya.” Seung Hee menasihati. Hae Won hanya menanggapinya dengan anggukan.

“Kamu pendiam sekali, selama ini aku belum pernah mendengar suaramu,” ujar Seo Yeon menatap Hae Won. Hae Won kembali tersenyum.

Bel masuk pun berbunyi, beberapa orang berlarian masuk ke dalam kelas. Semua murid kembali ke tempat duduknya masing-masing, begitu pun dengan Hae Won.

Hae Won melirik Dong Hae yang sedang mengeluarkan buku dari dalam tasnya lalu kembali menatap meja dihadapannya. “Gomawo,” gumamnya.

###

Tanpa disadari, waktu bergulir dengan cepat dan satu semester pun berakhir. Semua tempat duduk berubah dan kini Hae Won duduk semeja dengan Seung Hee.

Semenjak hari itu, Hae Won menjadi dekat dengan Seung Hee dan Seo Yeon. Mereka sering berkumpul bersama untuk sekedar mengobrol ataupun berdiskusi. Hubungannya dengan Dong Hae pun merenggang, pria itu tidak mengusilinya lagi dan mereka jarang berbicara. Namun setidaknya berkat keisengan Dong Hae, ia mempunyai teman perempuan yang bisa menggantikan tempat Dong Hae-walau tetap saja berbeda.

Hae Won sadari kalau ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Dong Hae. Sejak awal ia memang sudah tertarik, namun semakin lama ia semakin tertarik. Ia menyukainya, namun bukan sebagai laki-laki. Ya, ia yakin perasaannya hanya sekedar suka sebagai teman, karena Dong Hae teman pertamanya semenjak duduk di bangku SMA. Hae Won dapat pastikan hatinya untuk itu.

Sore ini entah mengapa hujan turun begitu derasnya, padahal sejak pagi matahari begitu terik dan tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Hae Won berdiri di depan gerbang sekolah sambil menatap nanar pada setiap titik air hujan yang turun membasahi bumi. Terlihat beberapa murid yang berlari menembus hujan dan beberapa murid yang berjalan dibawah naungan payung serta ada beberapa murid yang dijemput entah supir atau orang tuanya.

Lima belas menit berlalu dan belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Hae Won merasa tubuhnya mulai kedinginan, lalu ia berjalan memasuki gedung sekolah dan duduk pada bangku yang tersedia di ruang tunggu. Ia menggosokkan kedua tangannya agar lebih hangat sambil bersenandung kecil untuk menghilangkan rasa bosan.

Santa Claus!” panggil seseorang sambil berlari kearahnya lalu duduk disampingnya.

“O, Dong Hae!” ujar Hae Won sedikit terkejut. Ia memperhatikan rambut dan seragam Dong Hae yang sedikit basah.

“Belum pulang?” tanya Dong Hae seraya merapikan rambutnya yang basah.

“Kelihatannya?” jawab Hae Won sambil terkekeh pelan.

“Jawaban macam apa itu.” Dong Hae memukul pelan kepala Hae Won lalu ikut tertawa.

Selama beberapa saat mereka berdua larut dalam tawa, lalu Hae Won mengeluarkan sekotak tisu dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada Dong Hae. Dong Hae mengambil beberapa lembar tisu dan mulai mengelap wajahnya. “Thanks.”

Hae Won memasukkan kembali kotak tisunya ke dalam tas dan kembali menggosok pelan kedua tangannya untuk mengusir rasa dingin yang semakin terasa akibat hujan yang tak kunjung reda. Hae Won melongok keluar sekilas untuk melihat hujan, tiba-tiba ia merasa tubuhnya disampirkan sesuatu sehingga terasa hangat. Ia reflek menoleh dan melihat sebuah jaket yang sudah membungkus tubuhnya – jaket milik Dong Hae. Hae Won langsung menatap laki-laki yang duduk disampingnya itu.

Dong Hae menatap kosong papan pengumuman yang ada dihadapannya. “Pakai saja,” ucapnya tanpa menoleh pada gadis disebelahnya tersebut.

Tanpa diperintah bibir Hae Won telah membentuk seulas senyum dan ia dapat merasakan wajahnya memanas. “Gomawo.” Hae Won menundukkan wajahnya. Ia dapat merasakan jantungnya berdegup cepat memainkan sebuah melodi yang ia sendiri tidak mengerti.

Tiba-tiba keheningan meliputi mereka, perasaan canggung muncul diantara mereka berdua. Tanpa disadari, hujan pun telah berhenti selama mereka berdiam-diaman.

Hae Won melepaskan jaket Dong Hae yang menghangatkan dirinya lalu mengembalikannya. “Gomawo.”

Dong Hae bangkit dari duduknya. “Ayo pulang!” ajaknya dengan senyum manis di wajahnya.

###

Semenjak peristiwa itu, Hae Won menyadari perubahan perasaannya terhadap Dong Hae. Ia merasakan sebuah perasaan yang lebih dari hanya sebagai teman, ia mulai melihat Dong Hae sebagai laki-laki.

Hae Won bersikeras menyangkal perasaannya ini. Ia tahu kalau ia menyayangi Dong Hae, berarti ia akan menghancurkan hubungan pertemanan mereka selama ini. Ia tidak mau itu terjadi dan sekeras apapun, Hae Won harus melenyapkannya.

Hae Won sadari kalau Dong Hae mulai membuat jarak diantara mereka. Apa karena Dong Hae menyadari perubahan perasaan gadis itu terhadapnya? Sehingga ia ingin pergi pelan-pelan dari kehidupannya karena ia tahu ia tidak akan bisa membalas perasaan itu. Hae Won mulai merasakan hatinya sakit karena sekeras apapun ia menyangkal perasaannya, semua itu tidak ada manfaatnya lagi. Dong Hae sudah menjauhinya. Sisa kehidupan SMAnya ia lewati tanpa tatapan hangat dan senyum pria itu.

###

Tujuh tahun sudah berlalu semenjak Hae Won lulus SMA dan sampai sekarang ia masih bersahabat dengan Seung Hee dan Seo Yeon. Kini Hae Won sudah memiliki sebuah café yang ia kelola sendiri dan ia bangun dengan uang tabungannya sendiri. Selama tujuh tahun ini pula ia tidak pernah berhubungan dengan Dong Hae. Kabar yang ia dengar, setelah lulus SMA Dong Hae melanjutkan studinya di New York yang menyebabkan hubungannya dengan Sun Hee harus kandas.

Sore ini – selesai bercengkerama dengan Seung Hee dan Seo Yeon – Hae Won memutuskan untuk mengontrol keadaan cafénya sebelum ia pulang ke rumah. Setelah mengontrol, ia memutuskan untuk menghirup segelas teh hangat terlebih dahulu. Hae Won menyesap pelan green teanya sambil memperhatikan para tamunya yang kelihatannya menyukai kue-kue buatannya. Ia tersenyum puas.

“Maaf, bisa saya bertemu dengan pemilik café ini?” tanya sesosok laki-laki pada salah seorang pegawai. Laki-laki itu memunggungi Hae Won sehingga ia tidak dapat melihat wajah pria itu.

Hae Won menaruh cangkirnya dan beranjak dari kursinya menuju laki-laki itu. “Silahkan, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah.

Laki-laki itu berbalik dan mempertontonkan sederet gigi putihnya. “Apa benar pemilikcafé ini adalah seorang Santa Claus?”

Hae Won mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Mata teduh itu, senyum jahil itu… Beberapa detik kemudian ia tersadar dan senyumnya merekah, “ya.”

Pertemuan inilah yang menjadi awal kisah mereka.

The End

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Santa Claus

  1. So sweet, Hae Won gembira sekali donghae oppa mau jd temannya mulai dari hari pertama sekolah di sma, Hae Won sangat menyayangi Donghae oppa apalagi dia pny julukan khusus u Hae Won yaitu Santa Claus dan akhirnya mrk bertemu lg stlh 7 thn berpisah selepas lulus sma

    1. Hi, Ingga
      Thanks for reading yaa. Iya nih Hae Won beruntung banget bisa ketemu temen kayak Donghae oppa. Tunggu sequelnya yaa, gimana kelanjutan hubungan merekaa 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s